PorosLombok.com – Universitas Hamzanwadi tancap gas memperluas akses pendidikan inklusif. Lewat Pusat Layanan Disabilitas (PLD) dan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), kampus ini resmi meneken perjanjian kerja sama dengan sejumlah stakeholder penting, Kamis (19/6).
Kerja sama itu ditandatangani bersama SLB YCHI, SLB Asifa Selong, dan GERKATIN Lombok Timur, sebagai tindak lanjut dari MoU antara Hamzanwadi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kemenag Lombok Timur.
“Kita tidak mau hanya jadi kampus penonton. Hamzanwadi harus ada di garis depan soal pendidikan inklusif,” tegas Wakil Rektor I Universitas Hamzanwadi saat membuka kegiatan.
Menurutnya, kampus harus hadir bukan cuma untuk mahasiswa reguler, tapi juga untuk mahasiswa disabilitas dan dunia pendidikan di sekitarnya. Ia menilai peran relawan sangat penting dalam menjembatani kebutuhan itu.
Bukan hanya seremonial, penandatanganan itu dirangkaikan dengan peluncuran Kelas Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang langsung menyasar 12 sekolah di Lombok Timur.
“Kita tidak butuh banyak teori, yang kita perlukan adalah langkah nyata. Dan ini wujud nyatanya,” ujar Dekan FIP, Muhammad Sururuddin, M.Pd.
Sebanyak 61 peserta akan mengikuti Kelas BISINDO yang digelar selama empat bulan. Mereka terdiri dari guru SLB, mahasiswa pascasarjana, hingga tenaga kependidikan, yang akan dilatih langsung oleh juru bahasa isyarat dan teman tuli dari GERKATIN.
Pelatihan ini difokuskan untuk membekali peserta dengan kemampuan dasar berbahasa isyarat sebagai bentuk komunikasi empatik. Harapannya, tidak ada lagi hambatan komunikasi antara tenaga pendidik dengan siswa tuli.
“Kalau kita tidak bisa bahasa mereka, lalu bagaimana bisa bicara inklusif?” celetuk salah satu mentor dari GERKATIN dengan nada menohok.
Sementara itu, 36 relawan disabilitas juga diterjunkan ke 12 sekolah di wilayah Kecamatan Selong dan Pringgasela. Mereka akan menjalankan program selama tiga bulan, dengan 12 pertemuan di tiap sekolah.
Program ini difokuskan untuk membantu guru menerapkan pembelajaran yang ramah dan adaptif terhadap siswa berkebutuhan khusus. Para relawan akan mendampingi langsung di ruang kelas.
“Sekolah jangan cuma siap terima siswa, tapi juga harus siap layani. Kami bantu wujudkan itu,” ujar salah satu relawan dengan penuh semangat.
Langkah berani Universitas Hamzanwadi ini dianggap sebagai gebrakan penting dalam dunia pendidikan di NTB. Kampus ini membuktikan bahwa inklusi bukan hanya jargon, tapi harus dijalankan dengan aksi konkret di lapangan.
(*/porosLombok)
















