Alunan Budaya Pringgasela ke-9 Ditutup, Gubernur NTB Titip Pesan Lewat Bang AKA

(PorosLombok.com) – Gelaran budaya tahunan Alunan Budaya Pringgasela ke-9 resmi ditutup di Desa Pringgasela, Lombok Timur, Minggu malam (27/7).

Acara tersebut dihadiri oleh Staf Ahli Gubernur NTB Bidang Sosial dan Kemasyarakatan, Dr. Akhsanul Khalik, yang mewakili Gubernur NTB.

Gubernur NTB tidak dapat hadir secara langsung karena tengah fokus mengurus pelaksanaan Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII yang sedang berlangsung di NTB.

Meski demikian, Gubernur menitipkan salam dan apresiasi kepada seluruh masyarakat Pringgasela melalui Dr. Akhsanul Khalik, yang akrab disapa Bang AKA.

“Bapak Gubernur menyampaikan salam hangat dan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Pringgasela karena belum bisa hadir langsung malam ini. Beliau sedang menjalankan tanggung jawab sebagai tuan rumah FORNAS VIII,” ujar Bang AKA saat memberikan sambutan.

Dalam sambutannya, Bang AKA menyampaikan bahwa Alunan Budaya Pringgasela bukan sekadar pagelaran seni. Ia menyebut acara ini sebagai pantulan nilai-nilai budaya dan spiritualitas yang hidup dalam masyarakat Pringgasela secara turun-temurun.

“Ini bukan sekadar pertunjukan seni. Ini adalah cermin jiwa, pantulan roh kolektif, dan doa dari masa lalu yang disulam dalam langkah masa kini,” katanya.

Ia menegaskan, Desa Pringgasela bukan hanya dikenal sebagai kampung tenun, tetapi juga sebagai pusat peradaban lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Tenun di Pringgasela, menurutnya, bukan hanya kain, tetapi juga simbol filosofi hidup.

“Tenun adalah bahasa. Ia bicara tentang kerja kolektif, tentang ibu-ibu yang menenun tidak hanya dengan tangan, tetapi juga dengan hati. Ia lahir dari keheningan, menyatu dengan alam, dan membawa pesan gotong royong,” jelasnya.

Bang AKA menyebut bahwa dalam setiap helai benang yang ditenun, terdapat ajaran tentang persatuan, saling menopang, dan nilai kebersamaan.

Ia menyampaikan bahwa nilai-nilai tersebut masih relevan sebagai dasar pembangunan NTB hari ini dan masa depan.

“Gotong royong adalah bahasa langit. Kebersamaan adalah takdir terbaik manusia,” ucapnya.

Mengangkat tema “9 Kali Lahirnya”, acara ini menurutnya menjadi refleksi bahwa budaya lokal tidak pernah mati.

Budaya itu hanya menunggu waktu untuk lahir kembali melalui generasi muda dan kehidupan desa yang terus menjaga nilai-nilai luhur.

“Ini bukan sekadar nostalgia, tapi deklarasi masa depan. Bahwa dari desa seperti Pringgasela, dari tanah tenun, dari rumah-rumah yang masih berbicara dengan bahasa petuah, kita bisa membangun NTB yang makmur dan mendunia,” lanjutnya.

Di akhir sambutan, Bang AKA mengajak masyarakat untuk terus menghidupkan budaya, tidak sekadar dipamerkan tetapi dihayati, dibela, dan diwariskan.

Ia menutup dengan menyampaikan apresiasi dari Gubernur NTB kepada seluruh panitia, tokoh adat, serta masyarakat Pringgasela.

“Semangat Pringgasela adalah semangat membangun dari akar, menjahit dari bawah, dan menenun dengan cinta. Dengan penuh kerendahan hati, saya mewakili Bapak Gubernur NTB menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya,” pungkasnya.

(arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU