(PorosLombok.com) – Puncak Hultah Akbar ke-90 Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) di Medan Hultah, dipadati ratusan ribu jamaah. Minggu (14/09).
Sejak dini hari, lautan putih jamaah memenuhi arena, menandai kecintaan mereka kepada organisasi warisan Maulana Syaikh TGKH M. Zainuddin Abdul Majid.
Sejumlah tokoh turut hadir, mulai dari perwakilan Gubernur NTB, Wakil Bupati Lombok Timur, Kapolda NTB, hingga ulama internasional Syaikh Dr. Ibrahim Sulaiman Al Hud-hud dan Syaikh Habib Jindan bin Naufal.
Ketua PB NWDI, TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi, menyampaikan tausiyah penuh makna. Ia menegaskan, Rasulullah SAW menghadapi ujian yang jauh lebih berat daripada apa yang dialami umat Islam hari ini.
“Di Ka’bah, Nabi pernah sujud lalu disiram kotoran unta. Putrinya, Sayyidah Fatimah, menangis sambil membersihkan. Tapi Rasulullah tetap bersujud di tempat itu. Beliau berkata, kalau manusia berhenti sujud, maka itu kehancuran bagi seluruh umat,” ujar TGB.
Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan keteguhan Nabi dalam menjaga akidah. Pesan itu sekaligus mengingatkan umat agar tidak mudah goyah menghadapi berbagai tantangan zaman.
TGB menambahkan, perjuangan Nabi di Mekah berfokus pada penguatan akidah selama 13 tahun, sedangkan di Madinah lebih pada perincian ibadah.
“Jejak paling otentik akidah Islam adalah Ahlussunnah wal Jamaah. Itu warisan ulama yang wajib kita jaga karena mayoritas umat Islam di dunia berpegang pada akidah tersebut,” tegasnya.
Selain itu, TGB juga mengingatkan pentingnya menjaga Yayasan Pendidikan Hamzanwadi sebagai amanah wakaf. Menurutnya, para zurriyat hanyalah nazir, sedangkan hakikat wakaf adalah milik umat.
“Perjuangan Maulana Syaikh harus diteruskan. Amanah wakaf ini harus dijaga untuk sebesar-besarnya manfaat bagi bangsa dan negara,” tandasnya.
Hultah ke-90 NWDI berlangsung khidmat dan tertib. Momentum ini bukan hanya mengenang perjalanan panjang organisasi, tetapi juga meneguhkan semangat jamaah untuk melanjutkan perjuangan di masa depan.
(redaksi/PorosLombok)















