(PorosLombok.com) – Lautan manusia memadati peringatan Hultah ke-90 Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) sekaligus haul ke-28 Pahlawan Nasional TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, Minggu (14/9).
Ribuan santri, alumni, dan jamaah dari berbagai penjuru Nusantara tumplek ruah di Kota Selong, Lombok Timur, menjadikan acara ini sebagai momentum besar persatuan umat.
Di tengah suasana khidmat, Kapolda NTB Irjen Pol Hadi Gunawan melontarkan sindiran keras terhadap pihak-pihak yang disebutnya “tukang mancing di air keruh”. Menurutnya, ada oknum yang sengaja mencari keuntungan pribadi di balik kegaduhan sosial maupun politik.
“Orang-orang semacam ini ingin daerah kita gaduh supaya bisnis mereka jalan. Jangan biarkan itu terjadi. NTB adalah rumah kita, mari kita rawat dan jaga bersama,” tegas Hadi di hadapan jamaah.
Kapolda menegaskan bahwa NTB selama ini relatif aman dan kondusif. Namun, stabilitas tersebut bisa terusik jika masyarakat mudah terprovokasi oleh isu nasional yang sebenarnya tidak relevan dengan kondisi lokal.
“Saya ingatkan, kalau ada masalah di pusat jangan dibawa ke NTB. Misalnya ada kerusuhan atau pembakaran gedung di Jakarta, masyarakat kita tidak perlu ikut-ikutan,” ujarnya.
Ia mencontohkan kasus di ibu kota yang sempat memicu reaksi berlebihan, termasuk dari kelompok pengemudi ojek daring. Padahal, kata dia, aparat di NTB selalu mengedepankan pendekatan persuasif dan tidak pernah melakukan tindakan represif.
“Anggota di NTB tidak pernah melakukan kekerasan, pelayanan kepada masyarakat selalu diutamakan. Jadi jangan sampai terprovokasi, apalagi ikut menyalahkan aparat di sini,” jelas Hadi.
Pesan tersebut disampaikan di hadapan ratusan ribu jamaah NWDI, sekaligus menjadi penegasan bahwa provokasi oknum tukang mancing di air keruh tidak boleh dibiarkan merusak NTB yang selama ini dikenal damai.
(arul/PorosLombok)














