(PorosLombok.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai penggerak utama ekonomi Kabupaten Lombok Timur periode 2025-2026.
Hasilnya, aktivitas domestik masyarakat menjadi mesin paling dominan dalam memutar roda kesejahteraan di daerah tersebut.
Kepala BPS Lombok Timur, Hj. Sri Endah Wardani, S.ST., M.M., mengungkapkan bahwa struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menunjukkan ketergantungan tinggi pada daya beli lokal. Fenomena ini terlihat jelas dari angka statistik yang dihimpun timnya di lapangan.
”Pengeluaran konsumsi rumah tangga merupakan kontributor terbesar terhadap PDRB yaitu sebesar 72,75 persen,” ujar Sri Endah saat ditemui di kantornya, Selasa (13/1/2026).
Besarnya porsi belanja warga ini menandakan stabilitas wilayah sangat dipengaruhi oleh kemampuan finansial setiap keluarga dalam memenuhi kebutuhan harian.
Jika sisi pengeluaran tersebut terganggu, maka pertumbuhan ekonomi Bumi Patuh Karya dipastikan ikut melambat.
Sementara itu, dari aspek lapangan usaha, sektor agraris masih memegang peran kunci sebagai penyedia lapangan kerja sekaligus sumber produksi massal. Bidang ini konsisten menyuplai kebutuhan pangan sekaligus menjadi basis penghasilan mayoritas penduduk lokal.
”Pertanian, kehutanan, dan perikanan merupakan kontributor terbesar dengan capaian angka 27 persen,” lanjutnya merujuk pada porsi nilai tambah bruto yang dihasilkan.
Sri Endah menjelaskan bahwa indikator ekonomi, baik harga berlaku maupun konstan, adalah alat ukur objektif untuk mengevaluasi efektivitas pembangunan daerah. Data ini menjadi kompas bagi pemerintah dalam menentukan prioritas kebijakan pada masa mendatang.
Mengenai dinamika kependudukan atau tren demografi terbaru, otoritas statistik setempat menyebutkan proses penghitungan masih berlangsung.
Publik diminta menunggu hasil resmi karena pemutakhiran angka jiwa memerlukan verifikasi mendalam agar tetap akurat.
”Kaitannya kependudukan masih proses, sedangkan urusan ekonomi sementara mengacu pada data pertumbuhan triwulan 3,” jelasnya
Integrasi antara terjaganya harga komoditas pangan serta tingginya daya beli diharapkan mampu memperkuat daya tahan ekonomi Lombok Timur.
Fokus pada kesejahteraan petani dianggap krusial demi memastikan perputaran uang di tingkat bawah tetap terjaga stabil.
(arul/PorosLombok)
















