Lima Daerah di NTB Diterjang Bencana, Pemprov Akan Kucurkan Dana Darurat Rp16 Miliar

(PorosLombok.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyiapkan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp16 miliar untuk menangani dampak bencana alam di lima kabupaten/kota.

Langkah ini diambil melalui rapat koordinasi bersama pemerintah daerah setempat pada Kamis kemarin, (16/01/2026).

Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, mengungkapkan anggaran tersebut merupakan instruksi langsung Gubernur guna mempercepat pemulihan pascabencana.

Wilayah yang menjadi fokus meliputi Kabupaten Dompu, Bima, Lombok Tengah, Lombok Timur, hingga Lombok Barat.
Prioritas utama penggunaan dana adalah penyediaan logistik serta perbaikan infrastruktur mendesak.

Sadimin menekankan bahwa pemulihan akses transportasi yang lumpuh menjadi poin paling krusial dalam tahap awal ini.

“Tadi malam sesuai arahan Pak Gubernur ada Rp16 miliar untuk logistik dan jembatan-jembatan putus yang merupakan jalan satu-satunya,” ungkapnya saat ditemui di lokasi rapat koordinasi.

Meski anggaran sudah disiapkan, ia menyadari nilai tersebut kemungkinan besar belum mampu menutupi seluruh kerusakan di lapangan. Pihaknya kini tengah menyusun skala prioritas agar bantuan yang dikucurkan tepat sasaran.

Mengenai kerusakan rumah warga, Sadimin membuka peluang pembiayaan dari sumber serupa dengan melihat kemampuan kas daerah. Saat ini, penghitungan kebutuhan biaya masih dilakukan secara mendalam sebelum diajukan lebih lanjut.

Total kerugian materiil belum dapat dipastikan karena Tim Reaksi Cepat (TRC) masih melakukan verifikasi data di lapangan. Proses pendataan melibatkan kolaborasi lintas instansi, mulai dari pihak kabupaten, provinsi, BNPB pusat, hingga Balai Wilayah Sungai (BWS).

Di sisi lain, Sadimin menyoroti kondisi Sekotong yang kini menjadi langganan banjir akibat kerusakan lingkungan di bagian hulu. Ia menyentil hilangnya tutupan lahan hutan yang beralih fungsi secara masif menjadi ladang pertanian jagung.

“Kalau ke atas bisa dilihat sendiri, sudah jadi jagung semua. Kejadian parah ini muncul lima tahun terakhir akibat alih fungsi lahan. Kita harus sadar dan mengubah perilaku, jangan memikirkan kepentingan sesaat,” pungkasnya.

(Redaksi/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU