PorosLombok.com.-Bupati Lombok Timur Haji Khairul Harisin bergerak cepat mengambil langkah darurat. Beliau memimpin langsung upaya penanganan banjir yang merendam kawasan pemukiman penduduk di Dusun Sungkun, Desa Ekas Buana, Jerowaru.
”Banjir tahun ini merupakan yang terparah karena debit hujan terlalu tinggi ya,” katanya.Selasa (24/02).
Bencana sejak 23 Januari tersebut memaksa puluhan kepala keluarga meninggalkan rumah mereka. Air melumpuhkan total aktivitas ekonomi warga setempat karena genangan setinggi danau tak kunjung surut selama hampir satu bulan ini.
”Lokasi ini sudah cekung, kemudian dikelilingi oleh bukit, sementara laut agak jauh sedikit dari tempat ini,” jelasnya.
Kondisi geografis wilayah yang menyerupai mangkuk raksasa memerangkap air hujan tanpa adanya drainase alami. Hal ini terjadi lantaran minimnya akses pembuangan menuju pesisir pantai sekitar sehingga luapan embung terus meninggi.
”Sehingga kita sulit untuk membuangnya, nah salah satu cara yang sudah dilakukan adalah penyedotan,” ujarnya.
Petugas yang mengalirkan air menggunakan empat unit pompa belum melihat hasil signifikan bagi warga. Volume genangan sangat masif melebihi kemampuan mesin sehingga proses pengeringan lahan memerlukan waktu yang sangat lama.
”Penyedotan menggunakan mesin kelihatannya tidak efektif, waktu yang dibutuhkan sangat lama,” tuturnya.
Pemerintah daerah segera mengubah strategi dengan menerjunkan alat berat ke lokasi terdampak. Tim teknis menggali saluran pembuangan darurat yang mengarah langsung ke laut lepas agar debit air di pemukiman warga segera berkurang drastis.
”Saya khawatir nanti dalam kurun waktu yang berjalan ada diare, kemudian ada DBD menjangkit masyarakat,” ungkapnya.
Langkah taktis ini bertujuan menekan risiko krisis kesehatan lingkungan bagi para pengungsi. Air yang menggenang terlalu lama memicu munculnya sarang nyamuk serta bakteri yang mengancam daya tahan tubuh manusia.
”Namanya juga tergenang kan cukup berbahaya ya, nah sehingga itu yang menjadi kekhawatiran saya,” tegasnya.
Luapan air asal embung setempat juga menghancurkan ratusan hektare lahan pertanian produktif milik warga. Para petani kini menanggung kerugian material yang sangat besar karena seluruh tanaman mereka membusuk akibat rendaman air.
”Nah, sehingga kita harus mencari solusi cepat dengan mencari alat berat untuk membuat saluran,” ucapnya.
Bupati memerintahkan jajarannya segera berkoordinasi dengan kepala desa setempat secara intensif. Mereka bertugas menentukan jalur penggalian parit agar evakuasi air berjalan lancar tanpa menemui hambatan teknis berarti.
”Jika memungkinkan, maka ke depan akan dibangun waduk atau embung baru agar bisa menampung curah hujan,” pungkasnya.
Infrastruktur permanen tersebut menjadi solusi jangka panjang bagi wilayah selatan Lombok Timur. Pemerintah berharap langkah ini mampu menghalau dampak fenomena iklim ekstrem serta curah hujan tinggi pada masa mendatang.*















