PorosLombok.com – Umat Muslim kini memasuki fase pertengahan bulan suci Ramadan yang menjadi momentum krusial untuk mengevaluasi konsistensi agenda ibadah. Langkah ini sangat penting guna memastikan ritme spiritual tetap terjaga hingga akhir masa berpuasa nanti.
Ustadz Adi Hidayat menegaskan bahwa pada titik ini persiapan tidak boleh kendur melainkan harus semakin menyentuh kedalaman ruhani.
Nabi Muhammad SAW telah memberikan teladan kepada para sahabat mengenai tiga amalan utama sebagai pilar penguat selama bulan suci. Salah satu prioritas tertinggi dalam kurikulum tersebut adalah peningkatan kualitas serta kuantitas ibadah salat di setiap kesempatan.
”Peningkatan salat bukan hanya berarti mengerjakan salat fardu, melainkan terus menambahnya dengan rangkaian salat sunah secara konsisten,” katanya.
Logika ibadah ini menempatkan salat sunah sebagai penyempurna atau penambal jika dalam pelaksanaan salat fardu terdapat kekurangan khusyuk. Strategi ini menjadi sangat vital bagi umat dalam mengejar kesempurnaan pahala di sisa hari yang ada.
Ustadz Adi Hidayat mengajak umat untuk tetap disiplin menjalankan salat nawafil secara rutin, baik yang dikerjakan pada siang hari maupun malam hari, ujarnya.
Fokus utama dalam kurikulum ini adalah salat rawatib yang memiliki keutamaan luar biasa berdasarkan hadis sahih. Allah SWT menjanjikan sebuah rumah di surga bagi hamba-Nya yang istikamah menjaga 12 rakaat salat sunah pengiring tersebut.
”Pembagian 12 rakaat itu meliputi sebelum Subuh, empat rakaat sebelum Zuhur, serta dua rakaat setelah Zuhur, Magrib, dan Isya,” jelasnya.
Selain itu, terdapat pula salat empat rakaat sebelum Asar yang memiliki dimensi keutamaan berbeda meski tidak memengaruhi salat fardu secara langsung. Amalan ini menjadi instrumen tambahan untuk memperluas jangkauan rahmat dari Sang Pencipta.
Ustadz Adi Hidayat menyebutkan bahwa orang yang membiasakan salat ini akan mendapatkan tambahan rahmat yang melimpah dari Allah SWT bagi kehidupannya, katanya.
Persiapan menghadapi sepuluh malam terakhir harus dimulai dari kedisiplinan tinggi dalam menjalankan setiap butir ibadah saat ini. Transformasi spiritual yang nyata hanya dapat dicapai melalui latihan jiwa yang konsisten sebelum memasuki puncak bulan penuh ampunan.
”Mari kita manfaatkan sisa waktu ini dengan sebaik-baiknya agar Ramadan tahun ini menjadi momentum perubahan spiritual yang nyata bagi kita semua di Lombok,” pungkasnya.*
















