Berkah Lebaran Topat 2026, Pedagang Ketupat Musiman Serbu Kota Mataram

Pedagang ketupat musiman mulai memadati jalan protokol Kota Mataram jelang Lebaran Topat 2026. Keuntungan pedagang naik hingga lima kali lipat dibanding hari biasa di pasar tradisional.

PorosLombok.com – Pedagang selongsong ketupat mulai menjamur di sepanjang trotoar jalan protokol Kota Mataram menjelang perayaan tradisi Lebaran Topat 1447 Hijriah. Fenomena tahunan ini terlihat jelas di Jalan Majapahit hingga Jalan Airlangga.

​Para pelapak musiman tersebut mulai menggelar dagangan sejak pagi hari guna melayani warga yang berburu kulit ketupat janur kuning. Momentum ini menjadi puncak perputaran ekonomi mikro bagi warga lokal pada Jumat (27/03/2026).

​”Beberapa hari ini saya fokus di Jalan Airlangga karena banyak masyarakat mencari ketupat menjelang Lebaran Topat,” katanya.

​Pedagang asal Lingkungan Punia Karang Kelayu, Sahrip, mengaku sengaja berpindah lokasi jualan dari pasar tradisional ke pinggir jalan utama. Ia menilai akses jalan protokol lebih strategis untuk menjaring pembeli yang melintas menggunakan kendaraan.

​Langkah berani beralih lokasi sementara ini terbukti membuahkan hasil manis dengan omzet yang meningkat tajam dibandingkan hari biasa. Lonjakan permintaan janur yang sudah dianyam rapi menjadi tanda geliat ekonomi kerakyatan makin kencang.

​”Hasil berjualan menjelang Lebaran Topat ini jika dibanding di pasar bisa mencapai lima kali lipatnya,” terangnya.

​Peningkatan pendapatan yang sangat signifikan tersebut menjadi tumpuan harapan bagi para pedagang kecil untuk memenuhi kebutuhan dapur. Tingginya antusiasme warga merupakan berkah yang selalu dinantikan setiap seminggu pasca-Idul Fitri.

​Sahrip memaparkan bahwa konsumennya tidak hanya berasal dari warga lokal yang bermukim di sekitar pusat kota saja. Wisatawan yang sedang berlibur di Mataram juga tertarik membeli kulit ketupat untuk merasakan sensasi tradisi khas suku Sasak.

​Sebagian besar pengrajin anyaman di kawasan ini berasal dari satu kampung yang sama di Kelurahan Punia. Mereka dikenal memiliki keahlian turun-temurun dalam membentuk helaian daun kelapa muda menjadi wadah makanan yang estetik dan kuat.

​Tradisi makan ketupat bersama ini merupakan bentuk rasa syukur setelah umat muslim menyelesaikan ibadah puasa sunah Syawal selama enam hari. Ritual kuliner tersebut biasanya dibarengi dengan kunjungan ke makam keramat serta lokasi wisata.

​Anyaman janur berbagai ukuran kini menghiasi sudut-sudut kota sebagai simbol kemeriahan perayaan yang kental dengan nilai religi dan budaya. Kehadiran pedagang pinggir jalan ini sangat genting untuk memudahkan warga menyiapkan hidangan Lebaran.

​”Momen hari raya besar seperti sekarang adalah waktu yang paling kami tunggu-tunggu untuk mencari rezeki tambahan,” pungkasnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU