PorosLombok.com – Konflik geopolitik di Timur Tengah mulai memberikan dampak nyata terhadap peta kunjungan wisatawan mancanegara ke Kabupaten Lombok Timur. Sektor pariwisata daerah kini menghadapi tantangan baru akibat kendala penerbangan internasional.
Situasi ini memicu pembatalan sejumlah agenda liburan dari pelancong asal Arab Saudi maupun Kuwait yang tertahan di bandara. Fenomena tersebut terpantau mulai memengaruhi grafik kedatangan dari kawasan teluk akibat gangguan keamanan global.
”Wisatawan asal Timur Tengah memang berdampak, namun pasar Eropa, Australia, dan Asia saya kira masih stabil,” kata Stafsus Bidang Pariwisata Lombok Timur Ahmad Roji, Sabtu (28/03/2026).
Roji menyebutkan bahwa aktivitas pariwisata di wilayah ini secara umum masih menunjukkan angka yang cukup tinggi yakni menembus 1,6 juta pergerakan. Data statistik terbaru tersebut mencerminkan dinamika mobilitas orang yang masih sangat aktif.
”Saya masih menyimpan data statistik yang menunjukkan angka aktivitas orang berwisata mencapai 1,6 juta,” ujarnya.
Meskipun isu kenaikan harga BBM dunia mulai membayangi, dampaknya terhadap total angka kunjungan sejauh ini dinilai belum terlalu signifikan. Pemerintah daerah terus memantau pergerakan pasar mancanegara guna mengantisipasi penurunan drastis di masa depan.
”Dampaknya mungkin ada terkait harga bahan bakar, tetapi sejauh ini belum memberikan pengaruh yang besar,” jelasnya.
Optimisme senada juga muncul dari pelaku usaha di lapangan yang menilai kondisi saat ini masih dalam batas kewajaran. Para pengelola penginapan di desa wisata bahkan sudah mengantongi pesanan untuk jangka panjang meski dibayangi ketidakpastian global.
”Situasi di kawasan Tetebatu sejauh ini dampaknya tidak terlalu besar, kunjungan tamu masih berjalan biasa saja,” kata pengusaha homestay Tetebatu Mariani Rusli.
Mariani mengungkapkan bahwa saat ini kondisi pariwisata sedang memasuki masa low season sebelum lonjakan pada pertengahan tahun nanti. Ia mencatat pesanan kamar sudah terisi penuh mulai bulan Mei hingga Oktober mendatang oleh para pelancong mancanegara.
”Kami sudah menerima full booking sampai Oktober, meskipun potensi pembatalan mendadak tetap bisa terjadi sewaktu-waktu,” terangnya.
Para pengusaha tetap memberlakukan kebijakan biaya pesanan guna mengantisipasi kerugian jika terjadi pembatalan sepihak oleh calon wisatawan. Harapannya, ketegangan di luar negeri segera mereda agar tidak memicu gelombang cancel besar-besaran di hari keberangkatan.*
















