Makam Loang Baloq dan Ritual Lebaran Topat di Pesisir Mataram

Makam Loang Baloq merupakan situs ziarah keramat di Lombok yang unik karena terletak di dalam akar pohon beringin. Tempat bersemayamnya Syekh Gauz Abdurrazak ini selalu ramai dikunjungi peziarah yang ingin berdoa dan mel Melaksanakan tradisi Lebaran Topat.

Poroslombok.com –Angin laut menyapu pelataran pesisir Mataram, membawa aroma garam yang berkelindan dengan wangi kemenyan serta bunga kamboja yang luruh di atas nisan. Di bawah naungan beringin tua, debur ombak seolah berbisik tentang perjalanan spiritual di momen Lebaran Topat pada, Sabtu (28/03/2026).

​Tempat ini bukan sekadar hamparan nisan, melainkan episentrum memori bagi masyarakat Sasak yang mencari jejak penyebar risalah langit. Di sinilah bersemayam sosok ulama besar bernama Maulana Syekh Gauz Abdurrazak, pembawa lentera Islam ke pulau yang dikenal sebagai Bumi Seribu Masjid.

​Langkah kaki para peziarah biasanya tertahan sejenak di depan sebuah lubang unik pada akar pohon beringin yang nampak begitu purba. Dalam bahasa lokal, fenomena alam ini disebut Loang Baloq, sebuah nama yang secara harfiah bermakna Lubang Buaya.

​Rimbun dedaunan beringin raksasa itu seolah memayungi sejarah yang jauh lebih tua dari nisan-nisan pualam di bawahnya. Lubang tersebut diyakini sudah ada jauh sebelum jasad sang ulama besar dimakamkan di lokasi yang kini sangat dikeramatkan itu.

​Tak jauh dari pusara utama, terdapat dua makam lain yang senantiasa dibalut kain putih bersih sebagai tanda kesucian. Makam Anak Yatim dan Makam Datuk Laut berdiri sebagai pendamping setia dalam sunyi, melengkapi trilogi spiritual di tepi pantai.

​Syekh Gauz Abdurrazak dipercaya bukan sekadar pendakwah biasa, melainkan pengembara sufi yang membawa pesan kedamaian melalui jalur sutra laut. Beliau memilih pesisir sebagai pintu masuk, menjalin relasi antara ajaran samawi dan kearifan lokal.

​Keberadaan situs ini menciptakan simpul antara kekuatan alam dan keyakinan transendental yang tak pernah benar-benar terpisahkan. Masyarakat setempat memandang pohon beringin tersebut sebagai saksi bisu yang menjaga marwah wilayah pesisir dari amukan gelombang.

​Situs ini lantas bertransformasi menjadi ruang mediasi bagi mereka yang didera kegelisahan hidup dan mencari ketenangan batin. Banyak peziarah datang dengan harapan yang digantungkan pada doa-doa khusyuk di sela-sela sapaan angin laut yang lembap.

​Mitos pun berkembang subur di antara sulur-sulur akar tua yang menjulur ke tanah bagaikan jemari raksasa yang mencengkeram bumi. Sebagian orang percaya bahwa beringin di area pemakaman ini memiliki daya magis yang mampu menjadi perantara hajat hidup.

​Ada tradisi mengikatkan benang atau akar pohon sebagai simbol ikrar atau janji tulus yang harus ditepati oleh si pemohon. Praktik ini mencerminkan bagaimana spiritualitas di Lombok senantiasa berkelindan dengan simbol-simbol alam yang dianggap suci.

​Secara visual, kompleks makam ini memancarkan aura wibawa yang sangat kental sekaligus memberikan ketenangan bagi jiwa yang lara. Tembok-tembok rendah dan arsitektur khas lokal menjaga privasi para peziarah yang ingin tenggelam dalam zikir panjang.

​Kini, kerumunan manusia kembali memadati area makam untuk merayakan tradisi Lebaran Topat yang menjadi puncak kegembiraan setelah berpuasa Syawal. Tradisi ini menghubungkan kembali batin masyarakat dengan karamah ulama yang mendiami Loang Baloq.

​Warga datang membawa hidangan ketupat sebagai simbol syukur atas nikmat iman dan kebersamaan yang terus terjaga di Tanah Sasak. Perayaan ini menjadi bukti betapa kuatnya akar budaya yang ditanamkan oleh para pendahulu di pesisir barat ini.

​Ziarah ke lokasi ini adalah cara merawat sambungan sanad spiritual dengan para leluhur yang telah berjasa menyebarkan kebaikan. Mereka percaya bahwa menghormati orang-orang saleh akan membawa keberkahan bagi kehidupan yang sedang dijalani sekarang.

​Kisah tentang situs ini juga menjadi pengingat tentang strategi penyebaran agama melalui pendekatan budaya yang sangat inklusif. Pesisir menjadi beranda depan bagi transformasi sosial yang kemudian mengubah wajah peradaban masyarakat di pedalaman.

​Setiap sudut makam menyimpan lapisan cerita yang menanti untuk digali lebih dalam oleh para pencari hikmah sejarah nusantara. Identitas keislaman yang moderat terlihat jelas dari bagaimana situs ini dirawat dan dihormati secara kolektif oleh warga.

​Integrasi antara tradisi rakyat, legenda lubang buaya, dan sejarah religi membuat tempat ini menjadi artefak hidup yang sangat unik. Ia bukan sekadar objek wisata, melainkan perpustakaan terbuka tentang bagaimana agama bersemi di tengah budaya.

​Ketenangan yang ditawarkan situs ini seringkali membuat waktu seolah berhenti berputar sejenak bagi siapa saja yang bersimpuh. Keheningan hanya sesekali pecah oleh gumam doa yang bersahutan dengan suara burung yang hinggap di dahan beringin.

​Warisan spiritual Syekh Gauz Abdurrazak terus hidup, melampaui fisik makam yang kini kian megah bersolek mengikuti zaman. Loang Baloq tetap berdiri teguh sebagai mercusuar iman yang menerangi garis pantai dari kegelapan dan ketidaktahuan.

​Pesan utamanya tetap sama, yakni penghormatan terhadap jasa tokoh penyebar Islam yang meletakkan fondasi moral di Lombok. Loang Baloq akan selalu menjadi titik temu antara masa lalu yang agung dan masa depan yang penuh harapan.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU