PorosLombok.com – Penyakit helmintiasis atau cacingan kini menjadi momok menakutkan bagi peternak di Lombok Timur setelah ribuan ekor sapi terdeteksi gagal mencapai target berat badan ideal sepanjang tahun 2025.
Kondisi geografis beberapa wilayah yang cenderung lembap dan berair menjadi pemicu utama tingginya angka infeksi parasit. Jika tidak segera diatasi, biaya produksi yang dikeluarkan peternak akan terus membengkak tanpa hasil yang sebanding.
”Penyakit kecacingan pada ternak ini mencapai 3.000 sampai 4.000 kasus per tahun yang tersebar di semua desa di Kabupaten Lombok Timur,” ujar Kabid Keswan Disnakeswan Lotim, Hultatang, Rabu (15/04/2026).
Hultatang menyebutkan bahwa fenomena ini menyerang hampir seluruh kecamatan karena ekosistem pendukung cacing tersedia secara alami. Keberadaan air dan kelembapan yang tinggi mempercepat siklus penularan parasit dari lingkungan ke tubuh ternak.
Peternak di wilayah seperti Wanasaba dan Pringasela menghadapi tantangan berat akibat kualitas pakan hijau yang sering terkontaminasi larva cacing. Hal ini membuat investasi pakan dan perawatan yang telah dikeluarkan menjadi tidak efektif.
Kegagalan mencapai target pertumbuhan berat badan pada sapi eksotik menjadi bukti nyata kerugian finansial yang harus ditanggung warga. Berat badan yang seharusnya naik signifikan justru terhenti karena nutrisi pakan diserap oleh parasit.
Ancaman Kelembapan Wilayah Aikmel dan Urgensi Penanganan Sanitasi Kandang
”Daerah-daerah berair seperti di Aikmel memiliki tingkat helmintiasis atau kecacingan yang sangat tinggi,” jelas Hultatang.
Hultatang menguraikan bahwa sapi yang terinfeksi tidak akan pernah mencapai produktivitas maksimal meskipun diberi pakan tambahan. Dampaknya, peternak kehilangan potensi keuntungan karena sapi terlihat kurus dan lesu saat akan dipasarkan.
Dinas terkait mendesak peternak untuk beralih ke pola pemeliharaan yang lebih modern dengan memperhatikan faktor sanitasi. Kandang yang kotor dan becek menjadi faktor pengganda risiko penyebaran penyakit yang sulit dikendalikan.
Masyarakat diminta aktif berkonsultasi dengan petugas Puskeswan untuk mendapatkan dosis obat cacing yang tepat secara berkala. Langkah preventif ini dinilai jauh lebih murah dibandingkan menanggung kerugian akibat ternak yang tidak laku dijual.
Selain menjaga kebersihan, peternak disarankan untuk melayukan rumput terlebih dahulu sebelum diberikan kepada hewan guna mematikan larva yang menempel. Kedisiplinan dalam mengelola pakan menjadi kunci utama memutus rantai helmintiasis.
Pemerintah terus memantau pergerakan kasus ini agar tidak mengganggu stabilitas pasokan daging yang sehat bagi konsumen. Kualitas kesehatan hewan ternak harus tetap terjaga demi menjamin keamanan pangan di wilayah Lombok Timur,*















