Petani Sembalun Lombok Timur Sukses Budidaya Melon Pepino Amerika Selatan

Petani Sembalun, Lombok Timur, sukses budidayakan melon pepino asal Amerika Selatan. Buah unik non-merambat ini tumbuh subur di ketinggian 1.100 mdpl dan jadi daya tarik agrowisata baru.

PorosLombok.com – Sejumlah petani di kawasan dataran tinggi Sembalun, kaki Gunung Rinjani, Kabupaten Lombok Timur, sukses mengembangkan budidaya melon pepino sebagai komoditas baru pilihan unggulan, Sabtu (30/5/2026).

Langkah inovatif ini langsung mencuri perhatian pasar karena karakteristik tanamannya yang unik dan berbeda dari jenis buah pada umumnya. Batang tanaman ini tumbuh tegak berdiri sendiri dan tidak merambat layaknya keluarga melon biasa.

“Pengembangannya baru dimulai pada awal tahun dua ribu dua puluh empat,” ujar petani Desa Sembalun Bumbung Hosiatillah.

Hosiatillah menjelaskan bahwa sejauh ini baru ada empat orang produsen lokal yang berani mengawali penanaman komoditas langka tersebut. Meski demikian, hasil panen perdana menunjukkan potensi produktivitas yang sangat menjanjikan.

Satu pohon mampu menghasilkan puluhan buah dengan dua varietas warna dominan, yaitu hijau dan ungu. Masa tunggu produksi tanaman hortikultura ini juga tergolong relatif cepat karena hanya memakan waktu sekira tiga hingga lima bulan.

“Ukuran buah pepino yang dihasilkan di Sembalun jauh lebih besar,” katanya.

Ia mengonfirmasi bahwa keunggulan ukuran fisik tersebut dipengaruhi oleh faktor kesesuaian iklim dan topografi wilayah kelola. Kawasan kaki gunung dinilai memiliki karakteristik tanah yang sangat subur untuk tanaman subtropis.

Ketinggian wilayah Sembalun yang berada pada rentang 1.100 meter di atas permukaan laut menjadi modal utama kesuksesan adaptasi vegetasi ini. Selain menguntungkan dari sisi ekonomi, komoditas pangan ini juga kaya akan kandungan nutrisi kesehatan.

“Pengunjung bisa datang langsung ke kebun untuk memetik sendiri,” jelasnya.

Sistem pemasaran komoditas baru ini sengaja diintegrasikan dengan konsep agrowisata guna menarik minat kunjungan wisatawan domestik. Manajemen menetapkan tarif tiket masuk yang sudah mencakup berat kuota buah bawaan para pelancong.

Pola penjualan langsung di area lahan ini terbukti ampuh memangkas mata rantai distribusi yang kerap merugikan pendapatan petani kecil. Langkah taktis ini sekaligus membuka peluang usaha sampingan baru bagi warga lingkar sosiologis.

“Wisata buah ini diharapkan dapat menggerakkan perekonomian masyarakat,” pungkasnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU