Tim Kesehatan NTB Tembus 3.307 Layanan Medis Korban Gempa NTT, Respon Cepat di Jalur Bencana

Tim Kesehatan NTB tembus 3.307 layanan medis untuk korban gempa M 7,7 NTT. Puluhan relawan medis disebar di 7 kabupaten guna tangani pengungsi dan cegah KLB.

PorosLombok.com — Tim Kesehatan Nusa Tenggara Barat bergerak cepat menangani ribuan warga yang menjadi korban gempa bermagnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur. Misi kemanusiaan yang diterjunkan sejak pertengahan Agustus 2026 ini berhasil menembus berbagai wilayah pedalaman untuk menyalurkan bantuan medis darurat.

“Layanan kesehatan ini menyasar tujuh kabupaten yang terdampak gempa paling parah,” kata Ketua Tim Koordinator Solidaritas KR-BNN NTB, Dr. H. Ahsanul Halik di Mataram, Rabu (26/8).

Guncangan gempa dahsyat yang terjadi pada 15 Agustus 2026 tersebut meluluhlantakkan wilayah Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ende, Manggarai Barat, Nagekeo, hingga Ngada. Bencana hebat ini menelan korban jiwa sebanyak 83 orang dan memaksa puluhan ribu warga bertahan di tenda pengungsian.

“Total warga terdampak mencapai 1.915.194 jiwa, dengan 331 orang luka berat dan 639 orang luka ringan,” katanya.

Kondisi lapangan yang memprihatinkan memicu lonjakan jumlah pengungsi yang tersebar di ratusan titik darurat. Minimnya sarana sanitasi dan air bersih di lokasi penampungan menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu timbulnya wabah penyakit menular.

“Sebanyak 43.686 warga kini mengungsi di 400 titik penampungan yang membutuhkan pengawasan ketat,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi NTB merespons krisis tersebut dengan mengerahkan puluhan tenaga medis profesional yang dibagi dalam dua gelombang pemberangkatan. Para relawan ini dibekali logistik obat-obatan lengkap serta peralatan medis darurat untuk menunjang operasional lapangan.

“Kami menerjunkan 89 relawan kesehatan, di mana 53 personel sudah bergerak pada tahap awal,” jelasnya.

Komposisi tim medis dirancang sangat solid dengan mengandalkan tenaga perawat dan dokter spesialis sebagai garda terdepan. Selain itu, pasukan kemanusiaan ini disokong oleh ahli farmasi, epidemiolog, hingga tim psikologi untuk menangani trauma para korban.

“Kekuatan utama tim diperkuat oleh 32 perawat, 28 dokter, enam apoteker, dan tiga psikolog,” ucapnya.

Para petugas medis disebar ke daerah terisolir, termasuk menyisir kawasan Desa Satar Padut di Kecamatan Lamba Leda Utara. Sebagian personel bertugas secara berpindah tempat menggunakan armada khusus untuk menjangkau pengungsi yang tidak bisa mendatangi posko.

“Sebagian tim bergerak secara mobile untuk menjangkau warga yang jauh dari pos kesehatan,” tuturnya.

Ekskalasi pemberian bantuan medis sempat melonjak drastis saat memasuki minggu pertama pascabencana. Tim mencatat lonjakan pasien yang membutuhkan pertolongan darurat akibat kondisi fisik pengungsi yang terus menurun di tempat penampungan.

“Puncak pelayanan terjadi pada 22 Agustus dengan melayani 1.340 pasien dalam sehari,” katanya.

Setelah melewati masa kritis, tren masyarakat yang meminta bantuan medis perlahan mulai melandai. Kendati demikian, tim medis tetap disiagakan di setiap posko untuk mengantisipasi munculnya kasus darurat susulan dari para pengungsi.

“Meski grafik pelayanan mulai menurun, pelayanan medis tetap berjalan optimal untuk mengawal fase pemulihan,” ujarnya.

Keluhan penyakit fisik mendominasi laporan harian petugas di pos penanganan kesehatan. Sebagian besar pengungsi terserang nyeri otot ekstrem serta gangguan pencernaan akibat paparan cuaca dingin dan pola makan yang terganggu selama di pengungsian.

“Kasus myalgia atau nyeri otot menjadi keluhan terbanyak dengan mencapai 751 kasus,” jelasnya.

Memasuki fase penanganan lanjutan, penanganan medis dialihkan untuk mewaspadai munculnya ancaman penyakit berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB). Perubahan cuaca buruk dan kondisi lingkungan pengungsian yang kumuh menjadi faktor pemicu utama penyebaran infeksi saluran pernapasan.

“Kami memperketat pengawasan terhadap infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA yang kasusnya terus dipantau,” tuturnya.

Selain penyakit pernapasan, tim kesehatan menemukan tren kenaikan kasus diare dan infeksi saluran pencernaan di kalangan anak-anak. Penyakit paru-paru seperti pneumonia juga mulai mengancam para pengungsi usia lanjut yang bertahan di bawah tenda darurat.

“Pneumonia tercatat mencapai 30 kasus dan disentri juga menunjukkan kecenderungan meningkat,” ucapnya.

Pengawasan intensif dilaporkan oleh Koordinator Lapangan Tim Kesehatan NTB yang bertugas langsung di lokasi bencana. Tim epidemiologi bergerak cepat memetakan sanitasi lingkungan penampungan guna menekan laju penularan penyakit menular yang kian mengancam pengungsi.

“Surveilans harian kami perketat untuk mendeteksi dini potensi penyebaran wabah di area penampungan,” kata Koordinator Lapangan Tim Kesehatan NTB.

Pemeriksaan kesehatan secara mendalam juga menargetkan kelompok rentan yang berada di area terpencil. Petugas menyisir pemukiman warga untuk memastikan bayi, anak-anak, dan lansia mendapatkan penanganan nutrisi serta vitamin yang cukup.

“Pelayanan mobile kami memprioritaskan pemeriksaan pada 37 balita dan 152 warga usia produktif,” katanya.

Upaya penyelamatan nyawa tidak hanya berpusat di posko darurat, tetapi juga melibatkan mekanisme rujukan cepat bagi pasien berisiko tinggi. Pasien dengan kondisi kritis langsung dievakuasi menuju fasilitas rumah sakit penanganan utama di pusat kota.

“Kami telah merujuk sejumlah pasien dengan kasus obstetri ke Rumah Sakit Ruteng,” ujarnya.

Sinergi penanganan bencana diperkuat melalui kolaborasi bersama relawan medis dari berbagai perguruan tinggi. Integrasi ini memperluas jangkauan layanan kesehatan hingga ke pelosok desa yang sebelumnya sulit diakses kendaraan roda empat.

“Koordinasi lapangan diperkuat lewat integrasi bersama Tim Layanan Kesehatan Universitas Airlangga,” jelasnya.

Pusat kendali pertolongan medis difokuskan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dimaksimalkan fungsinya. Langkah ini diambil agar pendistribusian obat-obatan dan suplai alat medis dapat tersalurkan secara merata ke seluruh posko penampungan.

“Pos Induk Kesehatan dipusatkan di Puskesmas Dampek untuk mempermudah distribusi logistik medis,” tuturnya.

Pemerintah daerah berkomitmen menuntaskan misi kemanusiaan ini hingga situasi kesehatan masyarakat NTT benar-benar pulih total. Evaluasi harian terus dilakukan guna menyesuaikan kebutuhan obat-obatan dan jumlah personel medis di lapangan.

“Misi kemanusiaan ini akan terus berlangsung menyesuaikan dengan kebutuhan nyata warga di lapangan,” ucapnya.

Penanganan pascabencana dipastikan tetap berjalan berkesinambungan tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada para korban gempa. Kehadiran tim medis di tengah pengungsi menjadi bukti nyata kepedulian antardaerah saat bencana melanda.

“Kami memastikan masyarakat yang membutuhkan bantuan medis akan tetap terjangkau hingga kondisi pulih sepenuhnya,” pungkasnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU