PorosLombok.com – Aksi penghentian mobil logistik milik BAZNAS Tanggap Bencana oleh puluhan warga korban gempa bumi magnitudo 7,7 di Desa Riung, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, berakhir dengan suasana haru pada Rabu (19/8/2026).
“Mobil logistik kami dihentikan sekitar 73 warga yang mengaku belum tersentuh bantuan sama sekali sejak bencana melanda,” kata Relawan BAZNAS Tanggap Bencana, Ais Komarudin.
Rombongan relawan tersebut awalnya bergerak kembali menuju posko utama di Reo usai membeli berbagai kebutuhan darurat di Ruteng, termasuk bahan makanan dapur umum, terpal, obat-obatan, serta paket kebersihan.
“Sebagian besar muatan barang bantuan sempat diambil warga di lokasi, tetapi jeriken solar tetap ditinggalkan di dalam armada,” ujarnya.
Melihat kepanikan masyarakat yang sangat membutuhkan uluran tangan, dua relawan di lapangan langsung berinisiatif membangun komunikasi tenang guna meredakan situasi agar tidak berujung ketegangan.
“Kami berupaya mendengarkan keluhan mereka yang merasa terisolasi dan belum mendapatkan perhatian dari pihak mana pun,” jelasnya.
Para relawan kemudian memberikan penjelasan jujur bahwa mereka bukanlah rombongan pejabat pemerintah daerah setempat, melainkan tim kemanusiaan dari Nusa Tenggara Barat yang sengaja datang membawa amanah.
“Masyarakat akhirnya mengerti bahwa barang yang kami bawa merupakan sumbangan kepedulian dari saudara mereka di NTB,” ungkapnya.
Perubahan sikap warga yang melunak setelah mendengar penjelasan tersebut membuat tim kemanusiaan segera mengambil langkah kompromi demi mengutamakan keselamatan jiwa serta kebutuhan mendesak korban gempa.
“Ini sebenarnya bahan dapur umum, tetapi kalau Bapak dan Ibu sangat membutuhkan, langsung kami serahkan sekarang,” tegas Wakil Ketua BAZNAS NTB, Ustadz Zulkifli.
Keputusan spontan dari pimpinan relawan itu disambut tangis haru oleh warga desa yang tidak menyangka bisa menerima bahan makanan pokok secara langsung di tengah kondisi serba terbatas.
“Terima kasih banyak Bapak, kami sangat bersyukur akhirnya diperhatikan oleh saudara dari jauh,” katanya.
Peristiwa tak terduga di jalur distribusi tersebut dinilai sebagai dinamika lapangan yang lumrah terjadi saat situasi darurat bencana alam melanda suatu wilayah.
“Kondisi darurat di lapangan memang sangat dinamis sehingga kepekaan terhadap kebutuhan mendesak warga menjadi kunci utama,” ucapnya.
Sekembalinya ke markas Reo, seluruh tim langsung menyusun laporan kronologis kejadian secara lengkap untuk dikirimkan sebagai bentuk pertanggungjawaban resmi kepada pengurus pusat di Jakarta.
“Semua kejadian ini kami laporkan ke pimpinan pusat sebagai bentuk transparansi dan klarifikasi atas berita yang beredar,” pungkasnya.*

















