PorosLombok.com – Ratusan siswa di Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur, gagal masuk sekolah negeri tahun ini. Terbatasnya daya tampung dan sistem zonasi menjadi alasan utama anak-anak tersebut tersingkir.
Menanggapi persoalan itu, anggota DPRD Lombok Timur dari Dapil III, Saiful Bahri, meminta masyarakat untuk tidak larut dalam kekecewaan. Ia menegaskan, sekolah swasta bukan pilihan yang harus dihindari.
“Kalau tidak diterima di sekolah negeri, masuk saja ke swasta,” ujar Saiful kepada PorosLombok, Sabtu (5/7).
Menurutnya, banyak orang tua masih memandang sebelah mata sekolah swasta. Padahal, di tengah kondisi seperti sekarang, sekolah swasta menjadi penyangga utama pendidikan yang tidak terakomodasi di negeri.
Ia mengaku prihatin melihat kondisi sejumlah sekolah swasta di daerah pemilihannya yang kekurangan murid secara drastis.
“Saya temukan ada sekolah swasta yang cuma dapat tujuh siswa, tahun ini ” katanya.
Saiful menilai ini sebagai alarm serius. Jika dibiarkan, akan banyak sekolah swasta tutup, dan pada akhirnya, hak anak untuk mengenyam pendidikan akan makin sempit.
Politisi dari PPP itu menyebut, sekolah swasta memiliki peran penting dalam mencerdaskan anak bangsa. Selain akademik, banyak sekolah swasta yang konsisten menanamkan nilai agama dan karakter sejak dini.
“Di sana juga diajarkan nilai-nilai agama dan moral yang kuat,” tegasnya.
Selain mendorong masyarakat agar tak gengsi memilih swasta, Saiful juga menyoroti sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) di sekolah negeri. Menurutnya, mekanisme seleksi harus berjalan jujur, adil, dan transparan.
“Jangan sampai ada kesan permainan. Harus dibuka sejelas-jelasnya agar masyarakat percaya,” kritiknya.
Ia menekankan bahwa penerimaan di sekolah negeri jangan sampai menjadi ajang diskriminatif atau penuh celah kepentingan. Jika sistemnya tidak terbuka, kepercayaan publik akan terus merosot.
Saiful juga menegaskan, pendidikan adalah hak semua warga negara, dan negara wajib hadir memastikan semua anak mendapat tempat belajar yang layak—baik di negeri maupun swasta.
“Kalau negeri tidak cukup menampung, maka swasta harus disiapkan jadi solusi, bukan dibuang,” ujarnya.
Sayangnya, banyak orang tua masih menganggap bahwa hanya sekolah negeri yang menjamin masa depan, padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Ia meminta masyarakat membuka pola pikir baru dalam melihat dunia pendidikan. Yang utama adalah kualitas dan lingkungan belajar yang membentuk karakter anak.
“Jangan lihat nama sekolahnya, tapi lihat apa yang diajarkan dan bagaimana pembinaan anak-anak kita,” tambahnya.
Selain itu, ia juga mendorong agar pemerintah daerah lebih memperhatikan sekolah swasta, baik dalam bentuk subsidi, program beasiswa, maupun promosi.
Pemerintah, lanjutnya, tidak boleh berat sebelah dalam mendukung pendidikan. Semua sekolah, baik negeri maupun swasta, adalah bagian dari sistem yang harus dijaga bersama.
“Jangan biarkan sekolah swasta berjalan sendiri tanpa dukungan,” ujarnya lagi.
Saiful pun mengajak tokoh masyarakat, kepala desa, dan aparat wilayah ikut mendorong masyarakat agar tidak ragu memilih sekolah swasta.
Menurutnya, ini bukan soal gengsi atau status, tapi soal keberlangsungan pendidikan anak-anak yang menjadi aset daerah di masa depan.
“Yang penting mereka tetap belajar, punya akhlak, dan tidak putus sekolah,” pungkasnya.
(arul/PorosLombok)




















Mohon supaya yang negeri dibatesin untuk jumlah siswa yang diterima. Misalkan SMA Terara per jurusan ambil 2 Rombel, sehingga yang swasta kebagian siswa.
Kalau dibiarin semaunya Nerima siswa Maka yang swasta akan tutup.