(PorosLombok.com) – HMPS Pendidikan Sosiologi Universitas Hamzanwadi menggelar kegiatan Manajemen Organisasi dan Kepemimpinan (MOK)
Kegiatan ini digelar di Laboratorium Prodi, diikuti pengurus dan mahasiswa aktif.Sabtu (5/7).
MOK bukan pelatihan biasa. Tema yang diangkat pun menggigit: “Kepemimpinan dan Manajemen Sosial: Menggerakkan Organisasi dengan Lensa Sosiologi.”
Kegiatan ini jadi ruang pembongkaran pola pikir lama organisasi mahasiswa. Isinya refleksi tajam soal praktik kepemimpinan yang dinilai kehilangan arah sosial.
“Kalau organisasi cuma sibuk administrasi tanpa kepekaan sosial, yang lahir itu manajemen kosong, tanpa ruh,” tegas Ketua Prodi Pendidikan Sosiologi, M. Zainul Asror, M.A.
Menurutnya, mahasiswa perlu lebih dari sekadar paham struktur. Mereka harus peka pada realitas sosial dan siap jadi penggerak perubahan.
“Pemimpin itu pembaca zaman. Bukan pengisi jabatan,” ujarnya.
MOK menghadirkan dua pemateri: M. Marzuki, M.Pd. dan Hanapi, M.Si. Keduanya menyorot krisis kepemimpinan di tengah dunia yang makin rumit.
Hanapi menyinggung pergeseran dunia dari VUCA ke BANI. Dunia yang rapuh, cemas, tak terduga, dan membingungkan.
“Pemimpin hari ini harus lebih dari sekadar pintar. Dia harus tangguh secara emosional dan adaptif secara sosial,” kata kandidat doktor Undiksha itu.
Hanapi menegaskan, pemimpin tidak bisa mengandalkan pola pikir linier. Dunia butuh pemimpin yang tahan banting dan berpijak pada nilai.
Sementara itu, Ketua Umum HMPS Wahyu Saputra bicara lantang soal arah organisasi mahasiswa.
“Kami tidak sedang cetak pemimpin instan. Kami ingin merobohkan cara berpikir lama. Organisasi bukan tempat cari poin, tapi tempat tumbuhnya kesadaran sosial,” tegasnya.
Wahyu berharap MOK bisa menumbuhkan pemimpin yang sadar struktur ketimpangan, punya akar budaya, dan paham keadilan sosial.
(*/porosLombok)



















