PorosLombok.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) tengah mematangkan rencana pendirian Juliana Institute, lembaga pelatihan keselamatan dan peningkatan SDM yang akan fokus mendukung pengelolaan Gunung Rinjani.
Plh Sekda NTB, Lalu Moh. Fauzal, mengungkapkan hal itu usai rapat koordinasi bersama Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Dinas Pariwisata, Basarnas, serta sejumlah tour guide dan pelaku wisata, Senin (30/6).
“Juliana Institute akan bantu peningkatan kapasitas, terutama di bidang safety dan rescue. Kita sedang siapkan proposal resmi ke Duta Besar Brasil,” ujar Fauzal di Kantor Gubernur NTB.
Menurutnya, kehadiran lembaga ini penting karena kondisi di lapangan masih jauh dari kata ideal. Alat keselamatan minim, SOP perlu dibenahi, dan banyak guide belum tersertifikasi.
“Kita perlu sistem pelatihan yang profesional dan terintegrasi. Juliana Institute akan menjawab itu,” tegasnya.
Fauzal menyebut, saat ini ada sekitar 600 guide yang aktif di kawasan Rinjani, namun lebih dari 50 persen belum memiliki lisensi resmi.
“Ini bahaya. Orang ingin bantu turis, tapi tidak punya sertifikasi. Juliana Institute nanti akan tangani pelatihan dan lisensinya,” tambahnya.
Tak hanya soal pelatihan teknis seperti rescue atau navigasi, lembaga ini juga akan mengedukasi soal manajemen risiko dan standar keselamatan pendakian yang sesuai dengan praktik internasional.
Pemprov NTB menganggap kerja sama ini sebagai langkah maju. Apalagi, menurut Fauzal, Duta Besar Brasil menunjukkan minat serius setelah melihat langsung kondisi pendakian di Rinjani yang dinilai masih minim sistem keselamatannya.
“Alat seperti tali pengaman dan penunjuk arah saja kurang. Kita akui itu. Maka dukungan dari luar, seperti lewat Juliana Institute ini, sangat berarti,” tandasnya.
(Arul/PorosLombok)



















