PorosLombok.com, LOTIM –
Sampah merupakan salah satu masalah yang sampai saat ini masih belum bisa teratasi, berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah baik Provinsi maupun Kabupaten. Namun dibeberapa desa penanganan masalah sampah sudah mulai bisa teratasi,
Salah satunya desa dasan lekong, Kecamatan Sukamulia Lombok Timur penangan sampah di desa tersebut cukup masif, dengan cara membuat bank sampah dibeberapa titik, membuat desa dasan Lekong 85% bebas dari sampah Walaupun belun mencapai angka 100 % kerena terkendala Pandemi covid-19.
“Kita sudah memiliki Bank Sampah, kurang lebih 500 buah yang tersebar di seluruh desa dasan Lekong,” ungkap Kepala Dasan lekong Lalu Mujibul Akbar yang juga salah satu penggiat sampah saat ditemui PorosLombok, Senin kemarin (21/11).
Menurutnya sampah salah satu peluang usaha yang sangat menjanjikan, jika masyarakat mengetahui cara pengolahan sampah yang baik dan benar, tentunya mampu meningkatan ekonomi masyarkat, namun dalam penanganannya juga perlu adanya sosialisasi terus menerus sehingga akan tumbuh kesadaran dari individu masing-masing.
“Walaupun kita berusaha keras dengan berbagai upaya namun jika kesadaran dari masyarakatnya balum ada susah juga untuk menyelesaikan masalah sampah ini, maka dari itu langkah pertama yang kita lakukan rubah dulu perilaku masyarakat,” jelasnya.
Lalu Rajabul, menuturkan bahwa banyak desa-desa yang sudah melakukan kaji banding ke dasan Lekong terkait penanganan sampah, bahkan dirinya mengaku sering kali diundang jadi pemateri baik oleh Pemerintah Provinsi dan kabupaten.
“Saya pernah diundang jadi pemateri di Polda, terus DLHK provinsi, DPMD Lotim, dan beberapa instansi di NTb”ungkapnya.
Tak hanya jadi pemateri ia juga mengaku pernah mendapatkan penghargaan dari kementerian kesehatan dalam bIdang Kesehatan Lingkungan tahun 2022.
Penghargaan tersebut diberikan karena dinilai sangat peduli dengan kebersihan lingkungan dan kemampuannya mengedukasi masyarakatnya akan arti penting kebersihan lingkungan terutama dalam penanganan sampah yang timbul dari sampah rumah tangga.
Rajabul Akbar juga memaparkan, bahwa salah satu sumber penyakit adalah dari lingkungan yang kumuh. Lingkungan yang kotor disebabkan karena masyarakat suka membuang sampah disembarang tempat, padahal kalau sampah tersebut bisa dikelola dengan baik akan menghasilkan uang.
“Sebenarnya kalau kita cermati asal muasal dari penyakit itu kan dari lingkungan yang kotor atau kumuh. Itulah sebabnya dari semenjak saya menjabat Kades, sangat terobsesi untuk merubah mainset masyarakat untuk berprilaku sehat dengan tidak membuang sampah disembarang tempat,” ungkap Akbar panggilan akrab Kades Dasan Lekong itu.
Namun Akbar sangat menyadari bahwa merubah perilaku atau mainset masyarakat dari kebiasaan buang sampah disembarang tempat, ketempat bak-bak sampah yang telah disiapkan oleh Desa sangat sulit.
“Pertama kali kami memberikan edukasi tentang sampah ini kepada masyarakat, kami sangat kesulitan untuk memberikan penyadaran agar masyarakat buang sampah pada tempatnya. Melihat itu sulit, maka langkah kami berikutnya memberikan karung sampah kepada masing-masing Kepala Keluarga,” tuturnya.
Dari pemberian karung sampah ini, masyarakat kami sudah mulai ada kesadarannya untuk tidak buang sampah disembarang tempat, setelah pola itu berjalan, Kami menyarankan kepada masyarakat untuk memilah sampah plastik dan sampah organik. Karena sampah organik maupun sampah plastik memiliki nilai ekonomis.
“Setelah masyarakat ada kesadaran untuk tidak buang sampah disembarang tempat, kami minta mereka memilah sampah organik dan plastik, dan sampah plastiknya kami beli melalui Bank Sampah yang menjadi program pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat yang disebut Zero Waste,” imbuhnya.
(Arul/ PorosLombok)
















