PorosLombok.com – Samsul Fadli, anggota relawan SAR Lombok Timur, akan menerima penghargaan dari kementerian atas aksinya mengevakuasi pendaki asal Brasil, Juliana Merins, yang terjatuh di tebing Gunung Rinjani dan ditemukan meninggal dunia.
Evakuasi dilakukan dalam kondisi ekstrem di kedalaman 600 meter. Samsul bersama tim turun langsung menjemput jenazah korban dengan perlengkapan seadanya dan risiko tinggi di lapangan.
“Alhamdulillah, saya bersyukur bisa bantu bawa korban sampai ke atas. Ini panggilan kemanusiaan,” kata Samsul, Senin Kemarin Usai pertemuan di Kantor Gubernur NTB di Mataram (30/6).
Ia menyebut keselamatan pendaki harus jadi prioritas semua pihak. Saat evakuasi, sleeping bag yang dibawanya rusak. Resleting hanya bisa menutup sampai pinggang. Ia tidur tergantung di batu tebing tanpa perlindungan maksimal dari suhu dingin.
Meski akan menerima penghargaan di Jakarta, Samsul mengaku hanya membawa dua potong baju. “Yang saya pakai ini satu-satunya. Satunya lagi cuma kaos buat ganti,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah menyiapkan shelter dan perlengkapan vertical rescue di Pelawangan Rinjani. Menurutnya, hal itu penting agar pertolongan pertama bisa dilakukan lebih cepat di lokasi kejadian.
“Kalau alat sudah ada di atas, porter atau guide bisa bantu dulu. Enggak perlu tunggu kami datang dari bawah,” jelasnya.
Samsul menegaskan timnya hanyalah relawan dengan peralatan terbatas, berbeda dengan Basarnas yang dilengkapi alat berstandar internasional. “Kami bukan institusi, tapi tetap turun kalau ada nyawa yang harus diselamatkan,” katanya.
Tim SAR Lotim juga telah dipanggil oleh Wakil Bupati Lombok Timur, Edwin Hadiwijaya. Mereka diminta menyampaikan kebutuhan lapangan agar bisa dibantu lewat dana hibah.
Samsul berharap dukungan dari pemerintah terus mengalir, khususnya untuk penguatan kapasitas dan kelengkapan alat relawan SAR di daerah.
(arul/PorosLombok)



















