Oleh Mugni Sn. M.Pd. , M.Kom.,Dr.
(Direktur Selaparang Institut)
PorosLombok.com || Salah satu program NTB Gemilang yang dikomandani pasangan Zul-Rohmi adalah Seribu Cendekia. Dalam kampanye Cakada NTB 2018, pasangan Zul – Rohmi mengangkat Visi NTB GEMILANG dengan salah satu misi mencetak 1000 Cendekia dari putra- putri NTB.
Implementasi dari misi ini diwujudkan dalam program memberikan beasiswa kepada putra- putri NTB terpilih untuk kuliah S1 dan S2 di dalam dan luar negeri. Sepertinya program ini menarik bagi generasi muda NTB dan pasangan Zul-Rohmi mendapat mandat rakyat untuk memimpin NTB sebagai gubernur dan wakil gubernur periode 2018 – 2023.
Sepertinya perlu juga menjadi atensi bagi para akademisi untuk mengadakan kajian lebih lanjut tentang keterpilihan seseorang dalam pilkada di kaitkan dengan visi misi dan program yang ditawarkan saat kampanye oleh para, Cakada. Tentu anggarannya harus disiapkan oleh OPD teknis yang relevan.
Kada terpilih perlu memberikan atensi terhadap hal ini untuk maksimalisasi program-program yang telah ditawarkan saat kampanye. Bisa saja intrumennya dengan pertanyaan : (1) Siapa yang anda pilih saat pilkada? (2) Apa yang mendorong anda untuk memilih? Bila jawabannya karena visi dan misi cakada maka dapat dilanjutkan dengan misi yang mana. Tentu bentuk istrumennya yang memungkinkan responden mengingat misi tersebut. Untuk itu instrumennya harus multiplechoose.
Program pemberian beasiswa kepada putra- putri NTB sebagai implementasi dari misi Seribu Cendekia pada tahap awal sempat “gaduh” terkait dengan sumber anggaran. Para wakil rakyat di Udayana keberatan jika beasiswa tersebut dianggarkan dari APBD NTB karena seperti terekam bahwa program beasiswa ini tidak akan memakai APBD tetapi dari beasiswa negara dan perguruan tinggi tujuan.
Sepertinya informasi ini tidak holistik karena beasiswa dari negara tujuan bermacam-macam bentuknya. Bisa jadi beasiswa dimulai saat tiba di negara tujuan dan ditanggung semuanya. Bisa saja hanya ditanggung biaya kuliah biaya hidup tidak.
Dalam kondisi seperti ini maka pemerintahan negara pengiriman harus menyiapkan biaya untuk sampai ke negara tujuan dan atau biaya hidup selama mengikuti pendidikan. Inilah yg harus, dipahami oleh semua yang terkait dengan besiswa NTB untuk Gemilang Zul -Rahmi.
Kegaduhan-kegaduhan dapat dilalui dengan baik. Misi mencetak 1000 Cendekia putra – putri NTB running selama pemerintahan Zul-Rahmi.
Program ini diwujudkan dengan pemerintah NTB membangun kerjasama dengan perguruan tinggi yang ada di Malaysia dan Eropa yang akan menjadi tujuan pengiriman putra-putri NTB peraih besiswa tersebut.
Di Eropa terbangunlah kerjasama dengan perguruan tinggi yang ada di Polandia, Ceko,dan lain-lain. Untuk di Asia dengan perguruan tinggi yang ada di Malaysia.
Setelah kerjasama ini terbangun teknis operasional besiswa NTB dijalankan oleh Brida NTB dan LPP. Proses rekrutmen calon penerima besiswa NTB untuk kuliah S2 di luar negeri pun mulai berjalan. Anak-anak NTB bersaing secara terbuka dengan tidak direcoki oleh calon dari propinsi lain di tanah air. Terpilihlah putra-putri NTB untuk memulai berwawasan global.
Penerima beasiswa ini dengan semangat mengikuti seluruh ketentuan yang dipersyaratkan oleh pemerintah propinsi NTB dan negara/kampus tujuan. Mereka selesai tepat waktu dan bahkan lebih cepat dari ketentuannya yang dipersyaratkan oleh pemerintah NTB. Pemerintah menyiapkan alokasi anggaran di APBD untuk 2 tahun tetapi penerima beasiswa ini bisa selesai kuliah kurang dari 2 tahun.
Tidak ada anak-anak NTB penerima beasiswa ini melebihi batas waktu yang ditetapkan oleh daerah. Mengapa? Karena mereka memang menginginkan program ini dan mereka menjadi sangat serius untuk mengikutinya.
Anak-anak NTB peraih beasiswa ini bergaul dengan mahasiwa internasional. Rekan-rekannya datang dari berbagai negara. Mereka memiliki budaya yang berbeda. Terjadilah interakasi di antara mereka. Tentu yang baik-baik harus dijadikan contoh. Di samping itu anak-anak ini juga harus menampilkan budaya dan perilaku yang kita miliki, seperti sopan santun, saling menghargai, dan lain-lain.
Di samping pergaulan dengan antar sesama mahasiswa tentu juga menyaksikan berbagai hal di negara tujuan. Misalnya kebersihan? Mengapa mereka bisa bersih? Transportasi umum yang diminati masyarakat? Mengapa diminati dan seterusnya? Perilaku-perilaku baik dan jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaan itu diharapan menjadi out come bagi NTB setelah mereka kembali ke NTB.
Program besiswa NTB ini sangat baik untuk anak-anak NTB untuk berwawasan global dan selanjutnya membawa out come yang positif untuk NTB. Visi gubernur NTB terpilih, “NTB Mendunia” salah satu pintunya yang sudah memiliki best practise adalah program besiswa NTB, ” Seribu Cendekia Zul-Rahmi”.
Gubernur NTB terpilih, Dr. Lalu Muhammad Iqbal, M.Si. (LMI) birokrat ulung dan berkantor di berbagai negara tentu sangat paham cara dan strategi untuk melanjutkan program tersebut dengan tidak terlalu membebani APBD NTB yang masih sangat terbatas.
Dalam debat-debat calon gubernur NTB yang diselenggarakan oleh KPU maupun pertemuan-pertemuan bersama kelompok-kelompok masyarakat LMI setuju dengan program Seribu Cendekia tetapi pelaksanaannya jangan membebani APBD NTB 100 ℅ kerena pendidikan tinggi rakyat bukan menjadi tugas wajib pemerintah propinsi.
Tentang pendidikan yang menjadi tugas wajib bagi pemerintah propinsi adalah pendidikan tingkat menengah (SMA/SMK/MA/SLB). Pendidikan dasar (SD/MI/SMP/MTs) menjadi tugas wajib pemerintah kabupaten/kota. Dan, pendidikan tinggi menjadi ranahnya pemerintah pusat. LMI akan mencari cara lain untuk melanjutkan besiswa NTB unutk anak-anak NTB bisa kuliah di luar negeri tanpa direcoki bersaing dengan anak-anak dari propinsi lain di NKRI.
LMI telah memiliki jaringan luas dengan berbagai negara harus membangun kerjasama dengan negara-negara yang menyediakan beasiswa full untuk mahasiswa luar negeri. Artinya menyediakan biaya kuliah dan biaya hidup selama kuliah. Pemerintah NTB tinggal menyiapkan biaya proses untuk meraih beasiswa tersebut dan transportasi keberangkatan ke negara tujuan dan balik ke tanah air saat telah selesai.
Biaya, proses adalah biaya untuk meningkatkan kapasitas anak-anak NTB calon penerima beasiswa, seperti peningkatan kapasitas berbahasa asing. Peningkatan kapasitas bahasa juga dapat dilakukan dengan mereformasi metode dan strategi pembelajaran bahasa di sekolah-sekolah NTB yang menjadi kewajiban pemerintah propinsi.
Misalnya satu hari dalam sepekan seluruh warga sekolah wajib menggunakan bahasa asing dan bahasa daerah. Artinya bila tidak bisa berbahasa asing maka bahasa daerah menjadi pilihan baik di dalam maupun diluar kelas. Penggunaan dua bahasa ini akan menambah nilai bagi dunia pariwisata NTB.
Bagi guru bahasa asing wajib menggunakan bahasa asing bersama anak-anak dan warga sekolah. Bila lawan bicara tidak bisa maka pilihannya bahasa daerah. Tetapi jangan sepanjang waktu berbahasa daerah melainkan harus setiap waktu ada peningkatan warga sekolah yang berbahasa asing. Peningkatan ini harus menjadi tanggung jawab pimpinan sekolah dan guru-guru bahasa asing. Bila tidak ada peningkatan harus menjadi evaluasi untuk program-program selanjutnya.
Peraih beasiswa NTB harus membawa out come secara langsung bagi NTB. Untuk itu peraih beasiswa ini harus kembali ke NTB dan bekerja di NTB. Supaya peraih beasiswa ini telah memiliki lapangan kerja di NTB maka mereka harus mendapatkan rekomendasi dari Perguruan Tinggi Swasta yang ada d NTB untuk meraih beasiswa tersebut.
Begitu mereka selesai dan kembali ke daerah langsung menjadi pengajar (dosen) pada Perguruan tinggi yang memberikan rekomendasi. Praktik baik yang diperoleh selama kuliah di luar negeri dapat langsung ditularkan kepada mahasiswa dan warga kampus serta kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Inilah makna dari seribu Cendekia : out come for NTB. Wallahuaklambissawab.
















