LOTIM – Poroslombok.com | SMKN 1 Sikur, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur mengadakan Workshop Budaya Kerja dan Penguatan Karakter Berbasis Mindshet Change SMK Pusat Keunggulan ( PK ).
Workshop ini diikuti oleh guru, pegawai dan siswa. Dimana pada Workshop ini menghadirkan pemateri dari Indonesian Chef Association ( ICA ) dan salah seorang Dosen Universitas Negeri Malang yang merupakan pendamping dari program SMK Pusat Keunggulan ( PK ) SMKN 1 Sikur.
Kepala Sekolah SMKN 1 Sikur Hasbi, M.Pd. menerangkan kegiatan workshop ini merupakan workshop yang ke 11 yang diadakan pada tahun 2022.
Tujuan diadakannya workshop ini adalah agar siswa yang akan melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) mempunyai bekal yang mumpuni, sehingga tidak mengalami kesulitan di lokasi PKL nantinya.
“Kelas XI ini sebentar lagi akan PKL, jadi budaya kerja tentang bagaimana di dunia industri, dunia kerja itu mereka harus paham supaya nanti begitu turun PKL mereka tidak kesulitan” tutur Hasbi.
Workshop ini imbuh Hasbi, merupakan program untuk memaksimalkan bagaimana membentuk karakter siswa, keterampilan awal dan pola pikir bahwa SMK ini arahnya itu 3 yaitu bekerja, bisa juga Kuliah, dan yang terakhir itu bisa mengembangkan diri dengan berwirausaha.
Dengan demikian, imbuh dia, tiga arah ini polanya betul – betul mendidik anak menjadi mandiri sejak usia masih remaja, dan inilah bedanya SMK dengan sekolah lainnya.
Hasbi menambahkan, workshop ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan program SMKN 1 Sikur, yang mana tahun ini merupakan tahun kedua SMKN 1 Sikur untuk melaksanakan program Pusat Keungglan ( PK ).
Pada dasarnya program PK ini lebih kepada ciri khas SMK yaitu bagaimana bisa memunculkan produk – produk dan lebih kepada membangun mindshet / pola pikir paradigma baru dengan diberlakukannya kurikulum merdeka belajar.
“Sejatinya Kurikulum Merdeka Belajar ini adalah kurikulum yang bagaimana menghasilkan produk. Nah produk ini kalau melihat kondisi di sekolah kan ada dua yaitu ada yang produk dan non produk artinya ada yang berbasis barang dan ada yang berbasis jasa” tuturnya.
Selaku kepala Sekolah, Hasbi berharap nantinya ada bentuk ril dari implementasi materi yang didapatkan oleh peserta. Selain itu, ia berharap ke depan siswanya bisa menjadi anak yang mandiri untuk bisa berfikir tentang kehidupannya dan bisa menjadi roda penggerak ekonomi di masyarakat yang bisa menginspirasi teman sebayanya.
Sementara itu pendamping program SMK PK di SMKN 1 Sikur, Dr. Yuni Rahmawati, ST. MT. Menyampaikan ini merupakan kali kedua dirinya menjadi pendamping di SMKN 1 Sikur. Pada tahun kedua ini ia berharap nantinya harus ada peningkatan dari tahun pertama.
Yuni Rahmawati yang juga merupakan dosen di Universitas Negeri Malang, menyampaikan pada tahun pertama ( 2021 ) menjadi pendamping SMK PK di SMKN 1 Sikur, ada banyak kegiatan yang difokuskan terutama kegiatan bagaimana peningkatan kerjasama dengan industri, kemudian menerapkan beberapa kegiatan.
“Jadi sebenarnya industri itu mempunyai banyak peran untuk sekolah diantaranya magang, baik magang siswa maupun guru, kemudian dari sisi kurikulum, sisi rekrutmen, dan sebagainya itu adalah beberapa peran industri untuk datang ke sekolah dan mememberikan link” tuturnya.
Tujuan jangka panjang program SMK PK ini imbuhnya yaitu untuk menciptakan SMK yang memiliki kerjasama dengan banyak industri, karena menurutnya selama ini data yang ada, lulusan SMK banyak yang tidak terserap karena profil dari lulusannya itu tidak maps / dipetakan dengan kebutuhan industri. Sehingga ini merupakan suatu hal yang berbeda antara kurikulum yang digunakan untuk mencetak profil dan profil apa yang diinginkan oleh industri.
Oleh karena itu dari Dirjen Vokasi, sekarang ingin mendekatkan apa keinginan industri sebenarnya, sehingga nantinya anak – anak SMK itu benar – benar langsung terserap di dunia kerja , karena SMK yang sangat bagus adalah SMK yang mempunyai lulusan dengan keterserapan kerja tinggi.
Menurut Yuni, tema workshop yang sekarang dilakukan adalah Budaya Kerja dan Mindshet Change, sangat relasi, karena budaya kerja yang seperti apa yang seharusnya ditegakkan untuk mempersiapkan tenaga kerja yang nantinya benar – benar diserap oleh industri. Sehingga didatangkan ahli dari industri untuk berbagi ilmu mengenai budaya kerja.
“Kalau disini banyak hotel apalagi banyak visitor dari luar negeri maka standar kita kan tidak hanya standar lokal tapi standarnya adalah standar internasional” tuturnya.
( Erwin, PL )
















