LOMBOK TIMUR – Kepala Puskesmas (Kapus) Labuhan Lombok, Lombok Timur (Lotim), Muhdar mengaku tidak ada keterlibatannya dalam tindakan tak terpuji yang dilakukan oleh YS, salah seorang Tenaga Kesehatan (Nakes) yang terlibat membuat sertifikat vaksin tersebut.
“Saya benar-benar tidak mengetahui itu, saya mengetahui masalah pembuatan sertifikat vaksin palsu itu setelah adanya tim dari Polda Bali yang mencari YS ke puskesmas pada Jum’at lalu,” terang Muhdar saat ditemui diruangannya. Selasa, (31/8).
Setelah tim Polda Bali dan YS berhadapan kata dia, YS langsung ditanya terkait maslah ini dan YS mengaku bahwa sertifat vaksin palsu tersebut dibuat sendiri.
“Menurut pengakauan YS di depan tim Polda Bali, dia (YS, Red) mengaku dia membuatnya di luar puskesmas, tepatnya di tempat percetakan. Saya bersyukur dia tidak menggunakan fasilitas di puskesmas,” cerita Muhdar.
Ia kembali menegaskan, bahwa dirinya tidak mengetahui tindakan tak terpuji yang dilakukan YS. “Kita melihatnya normatif saja,” katanya.
Bahkan untuk pengentrian data atau code kata dia, tidak boleh ada yang mengetahui, terkecuali tim yang bertugas di entri data.
“Hanya itu ( bagian entri data, Red) yang tahu, staf yang lain tidak ada yang tahu. Ini betul-betul dirahasiakan,” sebutnya.
Adapun sertifikat vaksin palsu yang dibawa tim Polda Bali tersebut kata dia, memang ada yang menunjukkan keanehan. Setelah pihaknya melakukan pengecekan dengan sistem yang ada di puskesmas. Ternyata identitas yang tertulis di sertifikat vaksin palsu tersebut tidak ada dalam data puskesmas.
“Makanya kita berkesimpulan bahwa sertifikat vaksin itu palsu. Dia (identitas yang tertulis di sertifikat palsu, Red) tidak kita layani disini. Ternyata kartu yang didapat itu kartunya orang yang di edit dan diganti namanya,” katanya.
Dari keterangan yang ada di surat vaksin palsu tersebut, dibuatnya sertifikat vaksin palsu pada tanggal 6 Juni 2021 lalu.
“Pada saat itu, di puskesmas sendiri tidak ada pelayanan vaksinasi,” tutupnya. (Red)
















