Lombok timur | Poros Lombok
Majlis Ta’lim Darunnajah Al-Irsyadi dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bangkesbangpol) menggelar Seminar Kebangsaan bersama dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan bertemakan “Membangun Kebersamaan Untuk Indonesia berkemajuan demi terwujudnya persatuan dan kesatuan serta menjunjung tinggi nasionalisme,” Senin (28/03)
hadir pada acara tersebut Kapolsek dan Camat Wanasaba bertempat di Mamben Lauk Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur.
Dalam pidatonya Ketua majlis ta’lim Diki Insan Saputra mengungkapkan pentingnya menjaga nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Nasionalisme harus tumbuh di dalam keseharian bukan hanya di angan angan saja, jarang dari kita yang tahu makna dari pancasila itu sendiri,” ucapnya
Menurutnya jika kita telah melupakan nilai sebenarnya dari nasionalisme, maka akan timbul yang dinamakan radikalisme, intoleran provikasi dsb.
Sementara itu Drs Zaitul Akmal Sekertaris Bankesbangpol mengajak masyarakat untuk bahu membahu menjaga nasionalisme.
“Bukan tanggung jawab pemerintah saja membahas mengenai wawasan kebangsaan tetapi kita semua sebagai masyarakat juga harus ikut serta,” ujar Zaitul Akmal.
Ia juga mendorong masyarakat untuk senantiasa mengamalkan empat pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, Undang Undang Dasar (UUD)1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Kebinekaan.
Menurutnya juga penggunaan media sosial juga harus di kelola dengan baik agar tidak terjadi pemerosotan pemerosotan ahlak di negara Indonesia khususnya di Lombok Timur.
“Kita harus bijak menggunakan media, agar tak menjadi manusia yang tak berakhlak, dan taat terhadap peraturan negara juga merupakan bentuk bela negara,” sebutnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan banyak pimpinan negara yang belum memberikan teladan bagi masyarakat.
Oleh karenanya mari kita mulai dari diri kita masing masing, supaya kita menjadi teladan paling tidak menjadi teladan untuk orang disekitar kita seperti keluarga.
Ia juga menganggap pemerintah sudah maksimal melayani masyarakat di Lombok Timur.
Ditempat yang sama Ustad Asdarudin ketua dewan pembina majlis taklim narasumber menyampaikan sikapnya.
“Kita sebagai umat islam dalam binaan pondok harus benar benar menjadi yang terdepan dalam bela negara, aksi bukan berarti demo, tetapi menuangkan ide dalam kegiatan nyata mengisi kemerdekaan oleh pejuang bangsa,” tuturnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan negara dan agama bagaikan saudara kembar, dimana sangat sulit di pisahkan, maka kalau kuta pisahkan negara dari agama maka negara akan menjadi negara yang biadab.
Ia juga menyebutkan bahwa di indonesia sendiri dibangun oleh tokoh-tokoh agama, baik dari kristen, budha, tetapi didominasi oleh islam
Dimana dahulu para kyai dan tuan guru adalah garda terdepan dalam merebut kemerdekaan
(Arul |Poros Lombok)
















