Umat Muslim NTB ini Panduan Shalat Kafarat di Jumat Terakhir Ramadan

Umat Muslim NTB optimalkan Jumat terakhir Ramadan dengan Shalat Kafarat. Amalan ini menjadi solusi spiritual penebus kelalaian ibadah wajib sesuai tuntunan kitab Majmu’ al-Mubarokah.

PorosLombok.com – Umat Muslim di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) diingatkan untuk mengoptimalkan momentum Jumat terakhir di bulan Ramadan yang menyimpan keutamaan besar sebagai penghulu segala hari.

Berdasarkan khazanah keislaman yang berkembang pesat di masyarakat Lombok, hari Jumat memiliki derajat paling tinggi dalam syariat, terlebih jika jatuh pada penghujung bulan suci yang penuh ampunan. 11/03/2026.

​Momentum ini menjadi waktu yang sangat krusial bagi warga NTB karena merujuk pada riwayat Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam literatur klasik Kitab Majmu’ al-Mubarokah.

Kitab susunan Syekh Muhammad Radikal Khaoui tersebut menjelaskan secara rinci mengenai tuntunan shalat kafarat atau shalat pengganti bagi umat yang memiliki tanggungan kewajiban di masa lalu.

​Melalui rujukan hadis yang diyakini secara turun-temurun, terdapat anjuran bagi siapa saja yang pernah meninggalkan shalat untuk melaksanakan shalat pada Jumat terakhir Ramadan.

Amalan ini dipandang sebagai solusi spiritual bagi masyarakat di Lombok yang ingin menebus kelalaian ibadah wajib selama masa hidupnya yang mungkin tidak terhitung lagi jumlahnya.

​Ibadah ini dikerjakan sebanyak empat rakaat dengan ketentuan khusus, yakni hanya menggunakan satu kali tasyahud atau satu salam untuk seluruh rangkaiannya.

Setiap rakaat dimulai dengan pembacaan Surat Al-Fatihah, yang kemudian diikuti oleh pembacaan Surat Al-Qadar sebanyak 15 kali dan Surat Al-Kautsar sebanyak 15 kali secara tertib.

​Niat shalat kafarat tersebut menjadi panduan penting bagi jemaah di berbagai masjid di NTB agar pelaksanaan ibadah menjadi sah dan mencapai tujuannya. Pelafalan niat dilakukan dengan maksud menebus kewajiban shalat yang telah terlewat agar mendapatkan pengampunan total dari Allah SWT di penghujung bulan suci.

​Pernyataan dari Sayyidina Abu Bakar radhiallahu’anhu menegaskan bahwa esensi shalat ini adalah sebagai penebus atau kafarah atas kelalaian shalat hingga durasi seribu tahun.

Hal ini memberikan secercah harapan besar bagi warga Lombok yang merasa memiliki banyak utang ibadah namun sudah kehilangan hitungan pastinya di masa lampau.

​Dalam riwayat tersebut, para sahabat sempat mempertanyakan besarnya pahala tersebut mengingat umur manusia rata-rata hanya mencapai 60 hingga 100 tahun saja. Pertanyaan ini muncul karena besaran pahala penebusan seribu tahun dianggap jauh melampaui usia produktif manusia pada umumnya di dunia.

​Rasulullah SAW memberikan penjelasan bahwa limpahan pahala yang sangat besar tersebut akan diperuntukkan bagi orang tua, istri, anak, hingga sanak famili terdekat. Bahkan, keberkahan ibadah ini disebut mampu menjangkau orang-orang di lingkungan sekitar atau tetangga sebagai bentuk rahmat yang meluas dari Sang Pencipta.

​Setelah pelaksanaan shalat berakhir, jemaah dianjurkan untuk membaca shalawat Nabi sebanyak 100 kali dengan jenis shalawat apa saja sesuai kemantapan hati. Sangat ditekankan pula bagi masyarakat NTB tentang pentingnya menutup rangkaian ibadah tersebut dengan doa khusus agar permohonan ampunan menjadi semakin sempurna.

​Prosesi doa penutup harus diawali dengan rangkaian kalimat tayyibah yang terdiri atas Basmalah, Hamdalah, Istighfar, Syahadat, serta Shalawat masing-masing sebanyak 33 kali. Waktu pelaksanaan shalat ini tergolong fleksibel, yakni dapat dikerjakan sejak masuk waktu Dhuha di pagi hari hingga sebelum memasuki waktu Ashar.

​Syariat juga mengingatkan adanya satu waktu rahasia yang sangat mustajab pada hari Jumat bagi setiap hamba untuk memohon segala hajat kepada Allah SWT. Rasulullah mengisyaratkan melalui gerakan tangan bahwa waktu tersebut sangatlah singkat, sehingga umat Islam di Pulau Seribu Masjid ini didorong untuk terus terjaga dalam doa.

​Keseluruhan tuntunan ini menjadi pengingat agar seluruh jemaah di NTB senantiasa mengejar keberkahan dan memohon ampunan sebelum Ramadan berakhir meninggalkan kita. Diharapkan setiap Muslim diberikan kesehatan dan kesempatan untuk mengamalkan ibadah shalat kafarat ini demi meraih rida Ilahi dan kesucian jiwa di hari kemenangan.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU