Lacak 30 Kasus dan TB Anak Puskesmas Masbagik Baru Gelar Tracing TB Massal

Puskesmas Masbagik Baru menggelar tracing TB massal menyasar 100 orang per desa untuk melacak kontak erat dari 30 kasus aktif, termasuk ditemukannya kasus TB anak.

PorosLombok.com – Puskesmas Masbagik Baru menggelar aksi tracing Tuberkulosis (TB) massal di Aula Kantor Desa Masbagik Utara Baru pada Kamis (24/7/2026). Langkah cepat ini diambil guna melacak kontak erat pasca ditemukannya 30 kasus TB yang tersebar di tiga desa wilayah kerja puskesmas.

​Kepala Puskesmas Masbagik Baru, Huzratul Aini menegaskan kegiatan ini difokuskan untuk mengidentifikasi potensi penularan di tengah masyarakat secara cepat.

​”Kita ingin mengidentifikasi serta menemukan kasus-kasus baru dari kontak erat pasien yang sudah terkonfirmasi positif,” ujarnya.

​Wilayah kerja puskesmas ini mencatatkan akumulasi angka penderita yang tergolong tinggi sehingga masuk dalam daftar lokus penanganan TB tingkat kabupaten. Pihaknya menargetkan sebanyak 100 orang sasaran di setiap desa untuk memutus rantai penularan.

​”Sebanyak 30 kasus di tiga desa itu termasuk tinggi, makanya wilayah kami menjadi lokus penanganan untuk Lombok Timur,” katanya.

​Proses pemeriksaan kesehatan masyarakat dilakukan secara langsung di tingkat desa dengan melibatkan tim medis gabungan. Kabupaten menyiagakan alat Rontgen atau X-Ray khusus, sementara pihak pemerintah desa memfasilitasi tempat pelaksanaan.

​”Petugas medis disiagakan dari puskesmas, sedangkan unit Rontgen didatangkan langsung dari kabupaten untuk pemeriksaan di tempat,” jelaskannya.

​Desa Masbagik Utara Baru terpilih menjadi lokasi peluncuran perdana program penanggulangan TB untuk tingkat Kecamatan Masbagik. Desa ini mencatatkan jumlah penderita terbanyak, termasuk temuan kasus TB anak.

​”Wilayah ini menjadi launching kegiatan tracing karena jumlah kasusnya terbanyak dan ditemukan adanya pasien TB anak,” bebernya.

​Fasilitas kesehatan ini masuk dalam daftar 10 puskesmas di Lombok Timur yang mendeteksi kasus TB anak dari total 35 puskesmas. Program pemeriksaan intensif ini diinstruksikan langsung oleh pemerintah pusat dan didukung penuh dana APBN.

​”Kegiatan ini merupakan instruksi langsung dari pusat dan seluruh pembiayaannya ditanggung oleh anggaran pusat,” terangnya.

​Ancaman penyebaran TB paru sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pemukiman serta kebiasaan hidup harian warga. Mayoritas pasien penderita penyakit pernapasan ini berasal dari keluarga kurang mampu atau desil 1 yang krisis asupan gizi.

​”Hal sepele seperti jarang membuka jendela rumah sangat berpengaruh terhadap timbulnya TB Paru, selain faktor kurang gizi,” ungkapnya.

​Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah berjalan diharapkan mampu memperkuat kekebalan fisik masyarakat dari paparan bakteri. Namun, intervensi gizi tersebut dinilai masih memiliki keterbatasan jangkauan sasaran.

​”Inkubasi TB ini memakan waktu lama dan sasaran MBG saat ini masih terbatas pada siswa, bayi, serta ibu hamil,” terangnya.

​Upaya pemulihan kesehatan penderita TB menuntut adanya pemenuhan gizi harian yang memadai dan berkesinambungan. Huzratul berharap ada skema bantuan pangan terpadu bagi keluarga kurang mampu agar kebutuhan makan harian terpenuhi.

​”Harapan saya ke depan, satu keluarga dengan ekonomi sangat kurang bisa dibantu makan tiga kali sehari dengan gizi seimbang,” pungkasnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU