Bebaskan Ratusan Warga dari Bayang “Kebutaan Ekonomi”, Dikes Lotim & Bupati Pacu Operasi Katarak Gratis

Dikes Lotim dan Bupati H. Haerul Warisin berkolaborasi menggelar operasi katarak gratis bagi 600 warga, ditopang kenaikan anggaran BPJS Kesehatan Pemda Lotim 2026 hingga Rp147 miliar.

PorosLombok.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur menggelar sarasehan dan koordinasi lintas sektor bersama jajaran pemangku kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat di Pendopo Selong, Kamis (27/8/2026).

Langkah strategis ini berfokus memulihkan kesehatan penglihatan masyarakat yang kerap menjadi akar tersembunyi kemerosotan ekonomi keluarga.

Kolaborasi ini menggalang kekuatan camat, lurah, kepala desa, kepala puskesmas, hingga tokoh masyarakat. Kerja sama tersebut turut disokong penuh dokter spesialis mata Rumah Sakit Mata Provinsi NTB dan lembaga donor internasional.

Target utama gerakan sosial ini menyasar penanganan medis intensif bagi 600 penderita katarak serta 29 warga yang masuk daftar rujukan prioritas.

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Aries Fahrozi, menegaskan pentingnya pergerakan masif aparat kewilayahan hingga tingkat dusun untuk menjaring warga. Seluruh calon pasien akan langsung mengikuti penapisan awal (screening), mencakup tes kadar gula darah dan tekanan darah.

“Warga yang mengalami pandangan buram diimbau segera mendaftar di puskesmas terdekat agar bisa mengikuti operasi gratis pada 11 s.d. 13 September 2026 di RS Lombok Timur,” jelas Aries Fahrozi.

Program jemput bola ini dirancang khusus untuk memotong kendala jarak dan biaya logistik bagi warga kurang mampu di pelosok desa. Seluruh tahapan pemeriksaan hingga tindakan bedah mata dipastikan bebas biaya tanpa pemotongan apa pun.

“Kami minta jajaran pimpinan wilayah bergerak cepat mengimbau warga agar kesempatan emas memulihkan penglihatan ini tidak terbuang sia-sia,” ujarnya.

Misi kemanusiaan ini berjalan beriringan dengan komitmen penganggaran daerah yang dipaparkan langsung oleh Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin. Pemerintah daerah mengucurkan dana fantastis demi memastikan tidak ada warga yang terkendala akses pengobatan.

“Alokasi anggaran BPJS Kesehatan yang ditanggung pemda pada 2026 melonjak jadi Rp147 miliar lebih, naik signifikan dari tahun 2025 sebesar Rp98 miliar,” katanya.

Besarnya gelontoran anggaran daerah tersebut memicu ketegasan Bupati dalam mengevaluasi total kualitas layanan para tenaga medis di lapangan. Dokter, perawat, hingga bidan diminta mengubah cara melayani pasien agar lebih berempati.

“Saya minta seluruh pemangku kesehatan merawat masyarakat dengan baik. Senyum dalam pelayanan itu wajib, jangan bermuka masam,” tegas H. Haerul Warisin.

Bupati menyoroti bahwa penyakit katarak bukan sekadar masalah medis biasa, melainkan ancaman nyata bagi kelangsungan dapur warga kecil. Banyak pekerja sektor informal mendadak kehilangan mata pencaharian begitu mata mereka mulai kabur.

“Pekerja lapangan seperti pedagang, sopir, hingga pelaku usaha mikro sangat bergantung pada fungsi penglihatan yang optimal untuk mencari nafkah,” ucapnya.

Restorasi penglihatan warga melalui operasi massal ini diyakini menjadi pemicu utama masuknya kembali kelompok rentan ke dalam roda produktivitas daerah. Kesehatan mata yang pulih akan membebaskan mereka dari ketergantungan hidup pada pihak lain.

“Melalui momentum sarasehan dan operasi mata gratis selama tiga hari ini, pemerintah berharap produktivitas masyarakat segera kembali normal,” pungkasnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU