Tetesan Air Mata Syaikh TGB: Kerinduan Abadi dan Pujian Menggetarkan untuk Rasulullah Baginda Nabi Muhammad. SAW

(Lombok Timur, PorosLombok.com) – Di bawah langit biru Kota Santri Pancor, Lombok Timur, suasana penuh kedamaian terasa di setiap sudut kota. Gor Hamzanwadi menjadi pusat perhatian dengan ratusan ribu jamaah yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka berkumpul untuk memperingati Hultah Nahdlatul Wathan Diniah Islamiyah (NWDI) ke-89 dan Haul ke-27 Almagfurlahu Maulana Syaikh, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pada Minggu, 15 September 2024.

Jalan-jalan menuju Gor Hamzanwadi dipadati oleh jamaah yang mengenakan pakaian putih dengan sentuhan hijau. Warna putih melambangkan kesucian, sementara hijau menambah nuansa kedamaian dan kesejukan. Suasana kekhusyukan dan semangat spiritual terasa sejak pagi hari. Di tengah keramaian ini, Syaikh TGB. Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA., tampil sebagai sosok yang dinantikan untuk menyampaikan pidato yang penuh makna.

Di atas mimbar, Syaikh TGB menyapa jamaah dengan kehangatan. Suaranya yang bergetar menggambarkan kerinduan mendalam kepada Nabi Muhammad SAW. “Berulang kali kita datang ke Madinah, setiap pulang dari sana, kerinduan itu tidak pernah hilang. Bahkan, tidak sekedar berkurang, tetapi selalu bertambah,” ujarnya, seraya menatap jamaah yang terhanyut dalam suasana haru.

Syaikh TGB melanjutkan dengan menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar merayakan Hultah NWDI. Ini juga merupakan momen untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sosok yang dikenal sebagai “Sayyidul Wujud,” pemimpin dari segala makhluk. “Beliau bukan hanya pemimpin manusia, tetapi makhluk paling mulia yang pernah Allah ciptakan,” tambahnya, seolah ingin meneguhkan keagungan Rasulullah sebagai teladan abadi.

Ketika merenungkan kelahiran Rasulullah 1.454 tahun yang lalu, Syaikh TGB menuturkan, “Meskipun beliau lahir pada tahun 570 Masehi, rasanya Nabi selalu hadir bersama kita.” Pernyataan ini menggambarkan betapa kehadiran spiritual Rasulullah tetap hidup di hati umatnya, menginspirasi generasi demi generasi.

Di tengah pidatonya, Syaikh TGB mengingatkan jamaah tentang doa yang diajarkan oleh Almagfurlah Maulana Syaikh, yakni “adtiq’na ya rasulullah.” Doa ini menyoroti pentingnya syafaat Rasulullah di hari akhir, saat semua manusia mencari perlindungan. “Rasulullah, engkau memiliki hakkussyaffaah, berhak memberikan syafaat ketika nanti di akhirat,” katanya, menyentuh hati setiap orang yang hadir.

Menggetarkan Jiwa: Gambaran Hari Akhir yang Menghantui

Dengan penuh emosional, Syaikh TGB menggambarkan suasana hari akhir, ketika matahari tidak bercahaya tetapi panasnya membuat keringat menenggelamkan tubuh. “Pada saat itu, semua manusia mencari yang bisa menolong mereka,” lanjutnya, memberi gambaran yang menggetarkan hati, menambah kedalaman makna dari pidatonya.

Suasana haru semakin terasa ketika Syaikh TGB memanjatkan doa di akhir pidatonya. “Jadikan kami menjadi bagian dari umatmu yang mendapatkan syafaat, ya Rasulullah. Alhamdulillah,” tutupnya, dengan suara penuh harap dan cinta. Jamaah yang hadir turut larut dalam suasana khusyuk, mengaminkan doa tersebut dengan sepenuh hati.

Keharuan ini tidak hanya meninggalkan kesan mendalam di hati para jamaah, tetapi juga menguatkan kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Acara ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga ajaran mulia dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan oleh beliau.

Di luar Gor Hamzanwadi, suasana Kota Santri Pancor terasa damai. Pedagang-pedagang kecil di sekitar lokasi acara tampak sibuk melayani jamaah yang membeli makanan dan minuman. Kehangatan dan keramahan khas masyarakat Lombok Timur menambah nuansa kekeluargaan yang kental.

Bagi warga Kota Santri, peringatan Hultah NWDI dan Maulid Nabi adalah momen yang ditunggu-tunggu setiap tahun. Selain sebagai ajang spiritual, acara ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat tali silaturahmi antar umat Islam dari berbagai daerah.

Jamaah yang hadir tidak hanya datang untuk mendengarkan tausiyah, tetapi juga untuk saling berbagi cerita dan pengalaman. Suasana kekeluargaan dan persaudaraan sangat terasa, menciptakan ikatan yang lebih kuat di antara sesama muslim.

Setelah acara berakhir, jamaah perlahan meninggalkan Gor Hamzanwadi dengan membawa semangat baru. Mereka kembali ke daerah masing-masing dengan tekad untuk terus meneladani ajaran dan nilai-nilai mulia dari Rasulullah, menginspirasi generasi mendatang untuk tetap teguh pada iman dan persatuan.

Bagi Syaikh TGB, momen ini menjadi pengingat bahwa tantangan zaman tidak boleh menghalangi umat Islam untuk tetap teguh pada ajaran Rasulullah. “Kita perlu terus memperbaiki diri dan berkontribusi positif dalam masyarakat,” pesannya, mengakhiri acara dengan harapan yang tulus.

(Arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU