Lombok Utara – Poros Lombok | Menyoal isu pergantian Cidomo ke kendaraan listrik, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lombok Utara (KLU) menilai hal itu akan melahirkan permasalahan baru.
“Jangan sampai ini (Cidomo) kita hapuskan dan melahirkan konflik internal dalam masyarakat kita,” ucap Wakil Ketua II DPRD KLU Mariadi setelah di konfirmasi media ini, Selasa (7/3/2023).
Dikatakannya, sekarang ini yang lebih penting adalah bagaimana melindungi pengusaha lokal yang ada di Gili Trawangan.
Dengan cara sebisa mungkin mempertahankan ciri khas yang ada di tempat tersebut.
“Karena tidak hanya sekedar orang Dateng ke Gili Trawangan itu mereka puas melihat pantai dan sebagainya. Namun ada beberapa pasilitas pendukung yang selama ini mereka nikmati, salah satunya Cidomo,” tuturnya.
Lebih lanjut Mariadi mengatakan, pergantian yang ingin di lakukan pemerintah harus melalui pengkajian terlebih dahulu.
Hingga penerapannya tidak bisa di paksakan begitu saja, untuk itu akan membutuhkan waktu yang panjang bagi pemerintah melakukan sosialisasi dan sebagainya.
Dalam satu sisi, angkutan itu di perlukan karena keunikannya, tradisionalnya, ciri khasnya.
“Ini yang mau kita rubah menjadi angkutan moderen, kalau itu, kan dimana-mana mereka punya. Justru mereka (wisatawan) datang ke tempat itu bukan tertarik dengan angkutan moderen namun tertarik karena angkutan tradisional yang kita punya itu,”
“Hingga tidak bisa keluhan satu orang kita ingin mengubah pola yang sudah terbentuk cukup lama,” katanya.
Oleh karenanya, ia menilai pemerintah akan membutuhkan waktu yang panjang untuk melakukan alih transisi dari angkutan tradisional menjadi moderen, itupun juga sepanjang pemerintah bisa menjiwai keinginan masyarakat yang ada di Gili Trawangan.
(Yami Ulandari/PL)
















