OPINI, POROSLOMBOK– Lombok Timur merupakan salah satu Kabupaten Terbesar penduduknya di NTB, mempunyai banyak warna Bendera Organisasi, yang membuat rakyat terbelenggu dengan begitu kentalnya karekter Feodalisme yang menyelimuti Bumi Patuh Karya.
Banyaknya doktrin, yang membuat masyarakat menyembah kepada para manusia yang di katakan orang suci, dengan membawa simbol – simbol agama, hingga masyarakat beranggapan inilah surga, namun mereka lupa kalau Politik itu justru megotori sebuah keyakinan dan menelanjangi arti kata tuhan.
Mari kita berpikir dengan Logika ajari para orang tua dan generasi yang akan datang makna dan arti sebuah demokrasi Politik, karna sesungguhnya Politik itu mengandung banyak makna tergantung dari sudut mana kita memandang.
Sudah cukup nenek moyang kita tedahulu hidup pada zaman kerajaan , yang menganggap raja adalah wakil tuhan , yang mewariskan tahta kepada keturunan , hingga terbentuknya Dinasti kekuasaan yang dimana, rakyat harus hidup dalam bayang – bayang ketakutan.
“Jika kalian tidak memilih saya dosa yang akan kalian dapatkan”
Kata – kata ini yang selalu terdengar sebagai kata pamungkas untuk menghardik demokrasi dan kebebasan masyarakat awam untuk menentukan Pilihan dalam Politik, seperti kata bijak Emha Ainun Najib “Politik diciptakan dan dimanifestasikan berdasarkan filosofi dan tujuan untuk menyediakan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi manusia, tapi yang terjadi adalah sama sekali kebalikannya”
Mungkin masyarakat kita saat ini butuh pembaruan sebuah pemikiran tentang Politik, namun generasi muda yang intelek malah memanfaatkan ketidaktahuan tersebut untuk meraih kekuasaan sungguh ironis dan serba membingungkan.
Saat nya Lombok Timur melakukan Revolusi Kareteristik Politik, untuk menjaga alam demokrasi, yang terus di kebiri dan di butakan oleh fanatisme berlebihan, saatnya membuat mata masyarakat kita menjadi terbuka dalam menyikapi arti sebuah demokrasi yang sesungguhnya
Melihat dari pesta Demokrasi dari tahun – ketahun sejak jaman Reformasi 1998 yang dimana sudah mulai menggunakan sistem Pemilihan langsung, disitulah mulainya ada peluang terbangun Dinasti Politik , yang dimana Masyarakat menaruh harapan dan suaranya kepada orang yang dianggap sebagai Panutan.
Kita sebagai generasi milenial yang melewati masa muda di era tahun 2000 akan banyak memahami semua ini, kita harus siap menghadapi tantangan kedepan, saat nya kaum milenial merubah hal ini, kalau bukan kita siapa lagi
Di Era digital saat ini, dimana kebebasan berpendapat di buka seluas – luas nya oleh pemerintah mari manfaatkan itu, karna siapa yang mengusai tekhnologi informasi maka dialah yang akan mengusai dunia karna dengan tehnologi informasi kita bisa merubah Karektristik generasi yang akan datang
Pada sistem demokrasi dibentuk parlemen sebagai tempat agar dapat mengutus wakil rakyat di dalam pemerintahan. Tetapi dalam praktiknya wakil rakyat tersebut dapat dengan mudah dikeluarkan jika tidak mempunyai modal yang kuat untuk mempertahankan dirinya. Demokrasi seperti inilah yang banyak diterapkan oleh negara-negara modern, di mana perkembangan kapitalisme justru tumbuh dengan merajalela.
Nasib rakyat pun tetap tidak berubah dan penindasan beralih pada kaum borjuis. Kesengsaraan justru makin dirasakan oleh rakyat, karena mereka harus bekerja pada kaum borjuis atau di perusahaan agar dapat bertahan hidup. Tetapi, keringat dan kerja yang dilakukan setiap harinya tidaklah setimpal dari gaji atau upah yang ia dapatkan.
Bentuk demokrasi seperti ini hanyalah memperhatikan politiknya saja, sementara demokrasi ekonominya tidak ada sama sekali. Orang hanya dapat berkuasa ketika mempunyai modal yang dapat digunakan untuk membeli hukum dan aturan.
Demokrasi seperti itulah yang dikritik oleh Soekarno, demokrasi yang banyak diagung-agungkan oleh negara Barat. Bagi Soekarno sangat tidak menginginkan kalau Indonesia dibangun dengan sistem demokrasi seperti demikian, karena hal itu hanya menimbulkan rakyat tertindas dan pemodal dapat berbuat dengan semena-mena. Padahal demokrasi sejatinya adalah pemerintah dari rakyat dan untuk rakyat. Bukan pemerintahan dari rakyat malah untuk penguasa.
Pada masa perjuangan Soekarno, beliau sangatlah menolak dan anti terhadap segala bentuk penindasan, baik secara politik maupun ekonomi. Sehingga Soekarno menawarkan gagasan TRISAKTI dalam membangun Indonesia. TRISAKTI yang dimaksud adalah berdaulat secara politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Melihat kondisi hari ini, sistem pemerintahan belum berjalan secara normal untuk kepentingan rakyat. Berbagai problem yang masih berkecamuk dan kontroversi. Dengan banyaknya kepentingan sehingga melalaikan masalah yang fundamen. Skenario pemerintahan berjalan seakan menggambarkan bahwa tidak ada yang terjadi apa-apa.
Padahal, RUU PKS belum ada titik terang untuk segera disahkan dan bahkan sudah ditarik dari Prolegnas. Sementara Rancangan UU OMNIBUS LAW dan RUU HIP terus diupayakan untuk disahkan. Akhirnya, banyak rakyat menagih janji pemerintah, namun yang terjadi hanyalah seperti angin lalu.
Pada saat mendekati pemilihan, justru banyak orang-orang yang bermunculan seakan bertindak sebagai pahlawan rakyat. Beribu janji-janji yang diutarakan agar nantinya dapat terpilih sebagai pemimpin mereka.
Bentuk pemerintahan memang berubah dari feodalisme ke demokrasi. Akan tetapi, sistem penindasan kepada rakyat tidak pernah berubah, demokrasi hanyalah bingkai dari feodalisme. Pemerintahan tetap dipegang oleh keluarga bangsawan dan itu terjadi secara turun-temurun. Memang semua pihak dapat mencalonkan diri sebagai seorang pemimpin, namun nyatanya pemerintahan tetap menjadi warisan kepada keluarganya.
Itulah kenyataan banyak pemerintahan kepala daerah masih dipegang oleh golongan yang “berdarah biru”. Golongan yang dianggap lebih di atas derajatnya dibandingkan dengan yang lain. Kekuasaan mereka telah menjadi warisan bagaikan harta kekayaan yang diperuntukkan untuk anak-anaknya (rl)
Penulis ; arul
Sumber Opini : KAROMY .S.P.d M.Pd
















