LOTIM – PorosLombok.com | Pergeseran Kepala Sekolah SDN 2 Keruak menuai pro dan kontra hingga berujung penolakan dari sebagian wali murid sekolah tersebut. Penolakan itu pun menjadi perbincangan hangat beberapa hari terakhir.
Hal itu lantaran Kepala Sekolah sebelumnya, H. Nursalim, disebut-sebut telah berinovasi membuat program bagus, hingga mampu mengangkat prestasi siswa SDN 2 Keruak.
Namun siapa sangka, kepindahan H. Nursalim justru atas usulan para guru sekolah tersebut. Alasannya, para guru sudah merasa tidak sejalan dan tidak nyaman dibawah kepemimpian H. Nursalim.
Demikian diutarakan para guru SDN 2 Keruak saat dikunjungi poroslombok.com pada Jum’at (12/5/2023), di ruang guru sekolah tersebut.
“Terus terang saja ya, kita sudah merasa tidak nyaman, sudah tidak sejalan. Memang kalo masyarakat melihatnya baik-baik aja. Tapi kan dia ndak tau apa yang kita rasakan di dalam,” tutur Masriah, S.Pd, guru SDN 2 Keruak.
Ketika ditanya alasan ketidaknyamanannya, ia kemudian secara blak-blakan menceritakan salah satu contoh tekanan yang ia dan guru lain rasakan, yang menurutnya secara etik tidak pantas terjadi di lingkungan pendidikan.
“Salah satu contoh, pernah kita diagendakan rapat, tapi rapat itu kemudian tertunda sampai lima kali. Karna waktu itu ada teman guru yang sedang pemberkasan, sampai dia bolak-balik ngurus itu,” ujarnya.
“Kebetulan ada juga guru yang sedang hamil besar, dan ada juga guru yang sedang sakit sehingga berhalangan hadir,” imbuhnya.
Namun rupanya sang kepala sekolah tidak mau berkompromi dengan situasi apapun. Hingga kemudian agenda rapat direschedule ulang, bahkan di saat masih libur lebaran.
Alhasil, tak satu pun para guru yang menghadiri agenda rapat di masa libur lebaran tersebut. Alasannya, para guru masih disibukkan oleh kegiatan keluarga masing-masing, seperti acara silaturahmi dan lainnya.
Hal itu, kata dia, menyebabkan sang kepala sekolah (H. Nursalim-red) menjadi naik pitam, hingga mengeluarkan kalimat yang menurut para guru tidak pantas keluar dari seorang pendidik, terlebih kepala sekolah.
“Nah gara-gara itu kita dikatakan pembangkang massal. Padahal setiap programnya itu selalu kita dukung, ndak pernah ndak selesai programnya,” cetusnya.
Hal senada juga diungkapkan Madeniah, S.Pd, guru pengajar program Tahfiz Al-Qur’an pada SDN 2 Keruak, mengaku tertekan dan tidak nyaman bersama H. Nursalim.
Meski begitu, Madeniah tidak menampik akan kebaikan-kebaikan yang sudah ditanamkan Nursalim selama menjabat sebagai Kepala SDN 2 Keruak.
“Sebelumnya saya meminta maaf kepada Mamiq H. Nursalim, kami akui beliau punya banyak kebaikan, beliau telah banyak mengajarkan sesuatu kepada kami, termasuk soal kedisiplinan. Tetapi ya itu, sebagai manusia biasa tentu juga ada kekurangan,” ucap dia.
Menurutnya, selama ini Nursalim terlalu menekan dan memforsir para guru untuk melaksanakan program ekstra kurikuler berbasis keagamaan. Meski diakuinya bagus, namun menyebabkan para guru tidak memiliki waktu untuk mengurus keluarga.
“Waktu kita mengajar di kelas kan terbatas. Pagi sebelum lonceng kita sudah mengajarkan agama, sorenya lagi kita ngajar Tahfiz, Alhamdulillah anak-anak menguasai beberapa juz,” katanya.
“Tetapi itu, kami merasa tertekan dan tidak nyaman. Terlebih beliau mengatakan kami pembangkang, dua kali beliau mengatakan seperti itu. Dan Alhamdulillah sampai sekarang beliau tidak pernah minta maaf. Kalo ketemu biar kami saja yang minta maaf,” imbuh dia.
Karena itu, ia menyatakan, sebagai ASN maka harus tunduk terhadap segala kebijaka atasan, termasuk ketika sudah pindah maka harus legowo dan ikhlas di tempatkan dimana saja, sesuai janji ASN yang sudah diikrarkan.
Ketika ditanya apakah para guru bersedia jika H. Nursalim dikembalikan?, para guru yang hadir secara kompak menjawab supaya yang sudah terjadi tidak perlu dikembalikan lagi. Mereka mengakui sudah merasa nyaman dengan Kepsek yang baru.
Di tempat sama, Kepala Sekolah yang baru, Nurmawati, S.Pd.,SD, yang dimintai tanggapannya atas polemik yang terjadi hanya memberikan jawaban formal.
“Sebagai seorang ASN, tentu saya siap di tempatkan dimana saja di seluruh wilayah NKRI. Jadi, saya fokus kerja saja, saya tidak mau terpengaruh dengan kejadian ini,” ucapnya dengan gestur santai.
Kaitannya dengan program yang selama ini berjalan di sekolah tersebut, mantan Kepala SDN 1 Pijot itu menyatakan kesiapan untuk melanjutkan semua program yang sudah dirintis oleh Kepsek sebelumnya.
“Kalo tidak bisa kita tingkatkan, ya minimal program yang sudah ada kita jalankan dan kita pertahankan,” jelasnya singkat.
Terpisah, H. Nursalim yang dikonfirmasi via pesan WhatsApp mengaku ikhlas menerima keputusan pimpinan. Sebagai ASN, kata dia, harus menunjukkan sikap profesional dan siap ditempatkan di mana saja.
“Di tempat baru kami sudah mulai membangun komitmen untuk memulai program SD Besar (SD Berbasis Santri). Harus ikhlas, baru nyaman bekerja,” katanya.
Disinggung soal keinginan wali murid yang menghendaki dirinya untuk dikembalikan menjadi Kepala Sekolah SDN 2 Keruak, Nursalim mau merespons terlalu jauh dan memilih menerima keputusan atasannya.
“Terkait aspirasi wali murid, kami serahkan keputusan yang terbaik dari atasan,” pungkasnya.
(PL/anas)
















