PorosLombok.com – Sejarah bukan sekadar deretan angka tahun yang bisu, melainkan sebuah dialektika antara keyakinan dan tindakan nyata di tengah himpitan zaman. Di Indonesia, narasi kemerdekaan tak mungkin dilepaskan dari peran santri dan pesantren sebagai kawah candradimuka perlawanan terhadap kolonialisme.
Fenomena ini menarik kita pada sebuah refleksi mendalam mengenai bagaimana iman bertransformasi menjadi energi patriotisme yang melampaui kepentingan diri sendiri.
​Bila kita menoleh ke arah timur Nusantara, tepatnya di bumi Gora, Nusa Tenggara Barat, jejak heroisme itu terekam kuat dalam lintasan sejarah Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI).
Sejak didirikan oleh Maulanassyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada 1937, lembaga ini bukan sekadar tempat mentransfer ilmu agama, melainkan persemaian kesadaran kebangsaan yang utuh dan elegan.
​Melalui karya orisinalitas beliau, Wasiat Renungan Masa, Sang Maulana telah meletakkan fondasi filosofis-sufistik tentang eksistensi seorang santri. Beliau mengingatkan bahwa santri sejati harus memiliki jiwa siddiq, amanah, ikhlas, dan berani untuk terus berjuang melintasi tantangan zaman, yang diibaratkan dengan kemegahan Rinjani.
​Pesan tersebut mengandung makna sosiologis yang dalam bahwa seorang santri tidak boleh bersifat “amfibi” atau plin-plan dalam memegang prinsip. Keteguhan jiwa santri diuji saat mereka berhadapan dengan godaan duniawi, yang oleh Maulanassyaikh diistilahkan sebagai “sambal terasi”—sebuah metafora untuk kesenangan sesaat yang seringkali membuat orang melupakan rumah sendiri atau jati diri bangsanya.
​Intelektualitas pun menjadi pilar penting dalam perjuangan ini, di mana pencapaian gelar duniawi harus senantiasa dijalin dengan ajaran Tuhan. Kedalaman ilmu dan kesucian gelar tersebut kemudian digunakan sebagai instrumen pengabdian bagi agama dan negara, sebuah sintesis yang menunjukkan bahwa bagi santri, spiritualitas dan nasionalisme adalah dua sisi dari mata uang yang sama.
​Puncak dari kristalisasi semangat ini mewujud dalam syair heroik Nazuru Liabtholina yang digubah pasca-gugurnya para syuhada dalam pertempuran melawan NICA. Syair ini bukan sekadar ratapan atas kehilangan, melainkan sebuah manifesto kemenangan spiritual dan politik. Di dalamnya, nama-nama seperti Muhammad Faisal, Sayyid Saleh, dan Sayyid Abdullah disebut sebagai pahlawan yang meraih kemerdekaan sempurna.
​Refleksi atas syair tersebut membawa kita pada pemahaman bahwa Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober merupakan milik kolektif bangsa. Perjuangan madrasah NWDI dan NBDI adalah satu tarikan napas dengan napas kemerdekaan Indonesia. Menjaga sejarah ini adalah kewajiban etis agar kita tidak kehilangan arah dalam mengarungi arus globalisasi yang kian kencang.
​Secara historis, pergerakan NWDI yang dimulai sejak 1936 di bawah tekanan pemerintah kolonial menunjukkan sebuah keberanian intelektual. Dalam waktu singkat, madrasah ini menyebar ke seluruh pelosok Lombok, menciptakan kader-kader yang diorientasikan menjadi bintang-bintang pejuang tanah air. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan adalah hulu dari setiap perubahan sosial yang fundamental.
​Maulanassyaikh sendiri merupakan figur inovator yang melampaui zamannya. Beliau tidak hanya dikenal sebagai bapak para sekolah dan masjid, tetapi juga penggerak sosial yang menangani isu-isu krusial seperti buta aksara, pertanian, hingga kesehatan ibu dan anak. Keberpihakan beliau pada kemanusiaan menunjukkan bahwa nilai kepahlawanan tidak hanya diukur dari angkat senjata, tetapi juga dari pembangunan martabat manusia.
​Sikap beliau terhadap penjajahan sangat tegas: kolonialisme adalah eksploitasi manusia atas manusia lain yang menghalangi hak dasar untuk merdeka. Kemerdekaan bagi beliau adalah modal utama bagi pembangunan masyarakat. Tanpa kemerdekaan, potensi manusia akan terus terbelenggu oleh kepentingan sempit para penguasa asing yang hanya mengejar keuntungan materiil.
​Penentangan terhadap penjajah dilakukan secara terukur dan multidimensi. Pertama, melalui mobilisasi fisik murid dan keluarga, termasuk adik kandung beliau, TGH. Muhammad Faisal, yang gugur di medan juang. Pengorbanan ini semakin nyata saat beliau menghibahkan tanah miliknya sendiri untuk menjadi Taman Makam Pahlawan di Selong, sebuah simbol kedermawanan bagi bangsa.
​Kedua, beliau menunjukkan integritas dengan menolak menjadi penasehat bagi pemerintah kolonial. Meski secara diplomatik mensyaratkan keadilan, dalam karya-karyanya seperti Hizib Nahdhatul Wathan, beliau mengecam keras siapa pun yang menjadi alat penjajah. Beliau memberi label tegas bagi mereka sebagai pengkhianat bangsa dan agama, sebuah posisi etika publik yang sangat berani pada masanya.
​Ketiga, penggunaan instrumen spiritual sebagai benteng pertahanan. Hizib yang dibaca oleh para santri bukan hanya sekadar wirid, melainkan pendidikan politik untuk membangun kesadaran kolektif. Dengan spiritualitas, masyarakat didorong untuk “melek” secara intelektual dan budaya, sehingga tidak mudah diintimidasi oleh kekejaman penjajah Jepang maupun NICA.
​Keyakinan beliau bahwa penjajahan fisik selalu dibarengi dengan penjajahan agama dan budaya sangatlah relevan. Para penjajah seringkali berusaha mematikan suasana keberagamaan dan identitas lokal untuk mempermudah kontrol politik. Oleh karena itu, penguatan identitas santri melalui pendidikan agama menjadi benteng terakhir yang sulit ditembus oleh narasi asing.
​Keempat, pendirian madrasah bertujuan membekali generasi muda dengan nalar kritis. Maulanassyaikh menyadari bahwa ketertinggalan pendidikan adalah pintu masuk bagi kolonialisme. Dengan mencerdaskan kehidupan bangsa, beliau sedang memotong akar penyebab penjajahan itu sendiri. Pendidikan adalah senjata yang paling mematikan bagi struktur ketidakadilan.
​Dalam perspektif kebangsaan, syair Nazuru Liabtholina mengandung nilai patriotisme dan semangat kemajuan yang luar biasa. Ziarah ke makam pahlawan bukan sekadar ritual, melainkan upaya menyerap kembali energi perjuangan dan meneladani keikhlasan mereka. Tanpa ingatan sejarah, sebuah bangsa akan kehilangan kompas moralnya dalam menentukan masa depan.
​Resolusi jihad santri NWDI dan NBDI telah dibuktikan dengan darah dan air mata di medan tempur. Gugurnya para syuhada di bawah komando para tokoh agama menunjukkan bahwa pesantren adalah pilar pertahanan negara yang tak tergoyahkan. Semangat “Merdeka” yang diteriakkan oleh para santri adalah suara nurani yang menuntut keadilan hakiki.
​Sintesis dari perjalanan sejarah ini memberikan refleksi mendalam bagi kita hari ini. Kemerdekaan yang dinikmati saat ini adalah buah dari integritas antara ilmu, iman, dan amal. Santri masa kini dituntut untuk tetap memiliki “jiwa Rinjani”—kokoh berdiri di atas prinsip kebenaran meski dihadapkan pada godaan kekuasaan atau jabatan.
​Tantangan di masa depan mungkin tidak lagi berupa desingan peluru, melainkan perang pemikiran dan ketimpangan sosial. Oleh karena itu, nilai-nilai yang diwariskan oleh Maulanassyaikh harus terus dihidupkan dalam kebijakan publik dan perilaku sosial kita.
Keadilan harus menjadi panglima dalam setiap langkah pembangunan bangsa agar pengorbanan para syuhada tidak menjadi sia-sia.
​Sebagai penutup, kiranya kita perlu merenungkan kembali esensi menjadi santri yang merdeka secara jiwa dan raga. Merdeka berarti tidak lagi tertawan oleh kepentingan egoistik yang merusak tatanan bangsa.
Mari kita jaga warisan ini dengan kejujuran intelektual dan komitmen pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal demi tegaknya martabat Indonesia di mata dunia.
*














