Grafik Indeks Desa Membangun Lotim Menanjak Drastis, Kadis PMD: Ini Hasil Kerja Keras Semua Pihak

LOMBOK TIMUR | Poroslombok.com – Keterlibatan dan peran serta seluruh komponen masyarakat merupakan faktor paling menentukan bagi maju mundurnya suatu daerah. Karnanya, Jika program yang direncanakan pemerintah mendapat dukungan dari masyarakat, maka pembangunan akan berjalan dengan baik dan dampaknya akan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.

Sebab itulah, Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Timur melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) terus berjibaku bersama seleuruh stakeholder terkait untuk membangun daerah ini yang dimulai dari desa. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Muhammad Hairi, SIP.,M.Si, saat ditemui di ruang kerjanya, kamis (2/9/21).

Lanjut Hairi, pihaknya dalam hal ini DPMD sebagai motor penggerak bagi kemajuan seluruh desa yang ada di Lombok Timur terus melakukan bimbingan, pendampingan, masukan serta memberikan solusi atas setiap masalah yang ada di desa. Demikian juga dengan OPD lain yakni Dinas Kesehatan dengan fasilitas kesehatannya, Dinas Pendidikan dengan fasilitas pendidikannya serta Dinas Sosial dengan program-program sosialnya.

Indikator Penilaian Dalam Peningkatan Status Desa

Dari tahun ke tahun, perkembangan dan kemajuan desa-desa yang ada di wilayah Kabupaten Lombok Timur mengalami kemajuan yang cukup pesat. Hal itu terlihat dari data Indeks Desa Membangun (IDM) Lombok Timur yang menunjukkan penambahan kenaikan status desa cukup signifikan.

“Pada tahun 2019 kita baru ada 1 desa mandiri. Lalu pada tahun 2021 naik menjadi 7 desa, dan Alhamdulillah tahun ini naik menjadi 19 desa mandiri,” ungkap Muhammad Hairi.

Adapun indikator penilaian dalam menentukan klasifikasi desa menurut penjelasan Hairi, bahwa ada tiga indikator besar pada perankingan status desa baik itu desa tertinggal, desa berkembang, desa maju maupun desa mandiri. Ketiga indikator tersebut yakni kesehatan, pendidikan dan sosial.

Hairi menjelaskan, bahwa akses kesehatan yakni jarak tempuh antara pusat layanan kesehatan (pustu-red) dengan permukiman (rumah warga) menjadi indikator dengan bobot nilai yang tinggi. Demikian juga halnya dengan akses pendidikan berupa ketersediaan pusat pendidikan dasar yang ada pada sebuah desa seperti Paud, TK, SD dan SMP dengan jarak tempuh yang dekat tentu mendapatkan nilai yang tinggi.

Lalu yang ketiga, lanjut Hairi menjelaskan, modal sosial berupa pemberdayaan masyarakat setempat oleh pemerintah desa pada program-program desa seperti padat karya, program kotaku dan lain-lain juga dapat menjadi indikator penting yang memiliki bobot nilai tinggi. Hal itu menjadi penting karna dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, serta mengurangi angka pengangguran.

Hal itu tentu selaras dengan program pemerintah pusat dengan menjadikan desa sebagai lokus pembangunan. Indeks Desa Membangun adalah sebuah upaya desa untuk membangun dengan anggaran yang diberikan pemerintah pusat berupa dana desa, dimana desa dapat membelanjakan dana tersebut sesuai dengan kebutuhan dan membuat skala prioritas.

Semuanya itu, masih kata Hairi, akan bermuara pada tingkatan klasifikasi sebuah desa. Yakni desa mandiri, desa maju, desa berkembang dan desa tertinggal. “Ahamdulillah atas arahan pimpinan dan kerja keras semua pihak terkait sehingga di Lombok Timur sudah tidak ada desa tertinggal. Semuanya sudah terdongkrak. Bahkan kemarin jumlah desa mandiri naik drastis menjadi 19,”tandasnya.

Apa Saja Komponen IDM ?

IDM terdiri dari Indeks Ketahanan Sosial, Indeks Ketahanan Ekonomi dan Indeks Ketahanan Lingkungan/ Ekologi.

Indeks Ketahanan Sosial terdiri dari Dimensi Modal Sosial (indikator solidaritas sosial, memiliki toleransi, rasa aman penduduk, kesejahteraan Sosial); Dimensi Kesehatan (indikator pelayanan kesehatan, keberdayaan masyarakat, dan jaminan kesehatan); Dimensi Pendidikan (indikator akses ke pendidikan dasar dan menengah, akses ke pendidikan non formal dan akses ke pengetahuan); dan Dimensi Permukiman (indikator akses ke air bersih, akses ke sanitasi, akses ke listrik, dan akses ke informasi dan komunikasi).

Indeks Ketahanan Ekonomi terdiri dari Dimensi Ekonomi (indikator Keragaman produksi masyarakat desa, tersedia pusat pelayanan perdagangan, akses distribusi/ logistik, akses ke Lembaga keuangan dan perkreditan, Lembaga ekonomi, dan wilayah).

Indeks Ketahanan Lingkungan/ Ekologi terdiri dari Dimensi Ekologi (indikator kualitas lingkungan dan potensi rawan bencana dan tanggap bencana).

Tantangan dan Hambatan

Upaya pemerintah daerah melalui Dinas PMD dalam meningkatkan status desa tak selalu mulus dan tentu mendapatkan kendala serta hambatan. Hal itu dikarenakan mindset (cara berfikir) orang-orang di desa yang keliru. Kekhawatiran bahwa jika status desa naik menjadi desa mandiri akan berakibat pada akan dihentikannya bantuan dana desa dari pusat menjadi kendala dalam pendataan untuk menentukan status desa tersebut.

“Itu salah satu kendala kita, tapi kita terus berikan pemahaman dan keyakinan bahwa bagi desa yang statusnya naik nantinya akan mendapatkan reward. Tentunya dengan poin yang tinggi secara otomatis perhitungan dana desanya akan naik. Sehingga Alhamdulillah mereka bisa memahami dan akhirnya grafik IDM kita menanjak drastis,”pungkasnya.(ns-pl)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU