“Memace” Sajak Indah Suku Sasak yang Masih Lestari

SEJARAH | POROSLOMBOK –

Disebuah saung persegi panjang duduklah Empat orang tokoh adat dengan menggunakan pakain khas suku sasak, sembari membuka lembaran lontar, yang berisikan cerita sejarah zaman dulu. Acara tersebut dikenal dengan “Memace” (Membaca-red) sebuah tradisi budaya masyarakat sasak yang sampai saat ini masih terjaga.

“Memace” adalah lantunan kidung indah yang menceritakan kehidupan masyarakat sasak zaman dahulu. Acara ini biasanya digelar sebelum dilangsungkannya acara-acara besar seperti Perkawinan, Khitanan dan acara menyambut hari besar Islam.

“Lantunan cerita ini bersumber dari lontar kuno suku Sasak,” kata tokoh adat Lalu malik hidayat, S.Pd. yang memimpin acara tersebut. Selasa ( 28/12)

Ketika kidung ini didengarkan, seolah mengajak pikiran berfantasi kemasa lampau membayangkan suasana kampung yang penuh dengan kearifan lokal dan syarat akan budaya. Acara “Memace” ini bisa ditemukan di beberapa desa di Pulau Lombok seperti kotaraja, Loyok dan beberapa Desa lainnya.

Sebelum acara ini berlangsung, sebongkah menyanpun dibakar  aromanya yang harum menghadirkan kesan sakral dan mistis menyelimutinya

Tak banyak yang faham makna kidung kuno ini, akan tetapi masyarakat begitu menghayati bait demi bait kalimat yang terucap, kecintaan Masyarakat pada tradisi lokal masih tinggi membuat mereka berpikir “apa arti sebuah makna” hal ini tentu sesuatu yang luar biasa, apalagi di tengah hantaman zaman seperti sekarang ini.

Tak hanya itu sebagian bangsawan sasak menganggap acara ini merupakan sesuatu yang wajib dilaksanakan jika mereka mengadakan roah (Pesta – red) karena menurutnya ritual ini merupakan warisan turun-temuran dari nenek moyang terdahulu.

Perlu diketahui tradisi ini mengandung banyak pesan moral yang tersirat, yakni tentang tata cara kehidupan bermasyarakat zaman dahulu, bagaimana menjadi mahluk sosial, bagaimana menjalin hubungan dengan tuhan serta bagaimana beradap dalam kehidupan sehari-hari.

Acara ritual “Memace” membutuhkan waktu yang cukup panjang sampai seperempat malam, bahkan hingga menjelang Fajar (Subuh-red), kadang-kadang sampai tak terasa kopi yang menemani para pelantun tembang ini harus berulang kali berganti.

Semoga kedepannya  tradisi ini tidak mengalami degradasi ditengah era digitalisasi  yang semakin berkembang di bumi Lombok.

(Arul/ Poroslombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU