LOTIM | Poroslombok.com –
Kue temerodok buatan khas Sakra saat ini sudah merambah pasar nasional, merupakan salah satu makanan yang sangat digemari oleh masyarakat.
Bahkan, tak jarang wisatawan dari luar daerah sengaja datang ke Desa Sakra untuk sekedar mendapatkan kue temerodok dengan cita rasa khas seperti makan gabus, tapi manis dan renyah. Sekali mencoba, dijamin orang tersebut akan ketagihan.
Ya, kue penganan ibu-ibu Desa Sakra ini memang merupakan peninggalan turun-temurun dari nenek moyang masyarakat Sakra.
Bentuknya yang menyerupai jakun pria dewasa adalah salah satu alasan kenapa kue ini diberi nama Temerodok. Jakun dalam bahasa Sakra artinya Temerokok atau Temerodok, begitu penjelasan masyarakat setempat.
Kue ini berbahan dasar tepung ketan, telur, garam dan gula putih. cara pembuatannya sangat sederhana dan tradisional yaitu hanya menggunakan dua jari jempol, namun dibutuhkan keahlian khusus agar bisa berbentuk seperti temerodok alias jakun pria dewasa.
Demikian dijelaskan, Mia, gadis berusia 22 tahun saat dikunjungi poroslombok, Selasa (01/03/22) di tempat lapak dagangannya.
Menurut Mia, usaha Kue Temerodok mulai digeluti orang tuanya sejak 17 tahun yang lalu. Pasang surut pernah dirasakan, terutama saat pandemi covid-19 mulai menerpa wilayah ini.
Kendati demikian, lanjut dia, pencinta kue temerodok tak pernah hilang. Dimasa pandemi, setidaknya usahanya itu masih bisa mendapatkan omzet Rp.300 sampai 400 Ribu Rupiah per hari.
Biasanya, tutur dia lagi, permintaan Kue Temerodok akan meningkat pada perayaan hari-hari besar. Seperti pada perayaan Maulid Nabi, Isra Mi’raj dan saat menjelang hari raya Idul Fitri.
“Biasanya mulai 5 hari menjelang lebaran, kita bisa dapat 5 sampai 6 Juta per hari,” tutur gadis berambut panjang yang masih duduk di bangku kuliah itu.
Terkadang, lanjut dia, dirinya mendapatkan pesanan dari pelanggan yang akan dibawa ke jawa. Rata-rata, untuk pesanan yang akan dibawa ke luar daerah bisa sampai 1 juta rupiah.
Soal harga, tidak perlu khawatir, karna tidak akan menguras kantong pelanggan. Satu mika besar (isi 30 biji) dibanderol seharga Rp. 20 Ribu saja. Sedangkan untuk mika kecil (isi 15 biji) seharga Rp. 15 Ribu Rupiah.
“Tapi kalo yang sudah biasa beli di sini, mereka minta 25 ribu 3 bungkus mika,” pungkasnya.
(Anas/pl)


















