Poroslombok.com | LOTIM –
Bupati Lombok Timur, HM Sukiman Azmy, pada hari rabu (13/7) kemarin, melakukan peletakan Batu Pertama Masjid dan Kampus Sekolah Kebudayaan Urup di Sembalun Bumbung.
Masjid dan Kampus Sekolah Kebudayaan Urup dibangun di atas tanah seluas 1,13 hektar wakaf Dari Papuk Pe Mardisah.
Dalam sambutannya Bupati menyatakan , jalan di dusun lauk Rurung Timuk desa Sembalun Bumbung ini, sudah direncanakan akan dibangun jalan hotmik sampai ke pembangunan Universitas ini sampai di atas masjid.
“Sehingga ketika para sultan, para datuk, para profesor kembali lagi ke sini, jalan sudah bagus,” kata Bupati Sukiman.
Keberadaan sekolah kebudayaan ini, sambung dia, paling tidak mengnigatkan kepada Lima elemen Tuhan, manusia, alam, malaikat dan rasulullah, kelima ada syetan yang akan mrngganggu kita.
“Ke Lima elemen ini akan menyatu bersama kita. Para sultan, para datuk berkenan ke sini ini sesuatu yang luar biasa, di tempat kaki gunung rinjani ini,” ucap Sukiman dalam sambutan singkatnya.
Peletakan Batu Pertama dihadiri oleh para Sultan se-Nusantara, beberapa Datuk dari Malaysia, Sesepuh Kesultanan se-Nusantara, Budayawan dan Akademisi pemerhati budaya. Kegiatan ini dirangkaikan dengan Acara Adat Ngayu_Ayu Kawedanan Sembalun.
Untuk diketahui, acara puncak Gawe Adat Ngayu_Ayu sendiri dilaksanakan hari ini, Kamis 14 Juli 2022, dengan melaksanakan serangkaian ritual adat. Berikut poroslombok.com memberikan ringkasan singkat acara tersebut:
Upacara Ngayu_Ayu merupakan ritual adat yang dilaksanakan 3 (tiga)
tahun sekali oleh masyarakat adat Lombok Timur, khususnya masyarakat adat kawedanan sembalun.
Upacara Ngayu_Ayu dilakukan sebagai bentuk peringatan atas seluruh rangkaian sejarah, sekaligus sebagai penghormatan atas peran leluhur yang begitu besar, dalam kehidupan kita saai ini.
Istilah Ngayu_Ayu merupakan akronim, dimana NG = Ngamplang (artinya mengumpulkan), A = Aik (artinya air), Y = Yalah, U = Upacara, A = Adat, Y=Yang dan U = Utama. Jadi secara sederhana Ngayu_Ayu dapat diartikan sebagai suatu upacara mengumpulkan air dari 13 mata air, dengan tujuan menjaga marwah leluhur dan memelihara keutuhan Gumi Sembalun.
Sementara dalam kaca mata Islam Ngayu_Ayu diartikan sebagai sifat-sifat Allah SWT, dimana Hayyu artinya Hidup dan Qoyyum berarti kuat dan berdiri sendiri, sehingga Ngayu_Ayu dapat diartikan sebagai suatu upacara untuk menghidupkan dan menguatkan nilai-nilai spiritual adat Gumi Sembalun.
Adapun rangkaian upaacara Ngayu_Ayu, dimulai pada hari Rabu Pukul 16.00 wita, yaitu prosesi pengambilan air pada 13 mata air oleh pemangku adat, untuk dikumpulkan di Berugak Desa Sembalun Bumbung.
Pada Rabu malam, Pukul 20.00 wita : Pembacaan Lontar JatiSwara, oleh
para Pemaos (Para Pujangga Sasak) di Berugak Desa Sembalun Bumbung
Pada hari Kamis Pukul 07.30 wita : dilanjutkan dengan acara ritual
menghaturkan SESAMPANG oleh Pemangku Adat, yaitu acara
pemberitahuan kepada leluhur dan penguasa alam bahwa, upacara
Ngayu_Ayu segera dilaksanakan, karena untuk melakukan suatu upacara, sudah semestinya meminta Izin dan Restu kepada Para Leluhur dan kepada Allah SWT.
Hal ini dimaksudkan untuk penghormatan terhadap
alam, agar senantiasa terjalin kesinambungan dengan manusia, untuk menjaga keseimbangan yang tetap lestari.
Pukul 10.00 wita : Acara Penyembelihan Kerbau oleh Kyai Adat, sesuai TRAH atau keturunan.
Pukul 11.00 wita : Penanaman kepala kerbau oleh Pemangku Adat,
sebagai PANTEK (atau pasak) Gumi Paer Sembalun pada khususnya dan Lombok Timur pada umumnya.
Pukul 13.00 wita : Pemberangkatan Air dari Berugak Desa Sembalun,
menuju Lapangan Upacara Adat, yang diikuti oleh Pemuka Adat dan
Pemuka Masyarakat yang diiringi Tari Tandang Mendet dan Kesenian
lainnya.
Pukul 13.30 wita : Upacara Mapakin sebagai acara PUNCAK yang diawali
dengan acara silaturrahmi antara sesepuh Adat dengan para Tamu
Undangan, dan diikuti oleh seluruh masyarakat adat Sembalun. Selanjutnya, acara Mapakin dilanjutkan dengan 3 (tiga) prosesi lemparan KETUPAT, dengan tahapan sebagai berikut :
1. Lemparan PERTAMA dimulai dengan mengucapkan ‘Tanggal LIME’ (5) yaitu sebagai perlambang kesempurnaan sholat lima waktu.
2. Lemparan KEDUA dengan mengucapkan ‘Tanggal LIME OLAS’ (15) yaitu sebagai perlambang kesempurnaan bulan purnama.
3. Lemparan KETIGA dengan mengucapkan ‘Tanggal SELAE’ (25) yaitu sebagai perlambang kesempurnaan asal usul ajaran Para Nabi yaitu ajaran keTUHANan yang dibawa oleh 25 Para Nabi dan Rasul.
Pukul 16.00 wita : Upacara PERANG PEJER (Perang Penolak Bala’) dan
penumpahan air dari semua mata air di KALI PUSUK, sebagai simbol
penyatuan Gumi, Air, Hutan, dan Alam lingkungan.
Pukul 16.30 sampai dengan selesai : Pembacaan DO’A SELAMAT yang dibacakan oleh para Kyai Adat, sebagai acara terakhir dan penutup upacara Ngayu_Ayu.
Oleh: Serkapuddin, S.Sos.,M.M


















