PorosLombok.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti meresmikan program strategis revitalisasi satuan pendidikan nasional di SMKN 1 Sikur, Lombok Timur, Minggu (17/5/2026).
Agenda besar yang mengacu pada arahan Presiden Prabowo Subianto ini dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi tingkat provinsi. Langkah nyata ini menjadi tonggak awal penataan infrastruktur kelas secara menyeluruh.
”Kami sedang melakukan pendataan kembali sekolah-sekolah yang ada di seluruh Indonesia,” ujar Abdul Mu’ti,
Abdul Mu’ti memaparkan bahwa perbaikan sistem Data Pokok Pendidikan atau Dapodik mendesak dilakukan. Akurasi input dari operator sekolah menjadi kunci utama agar usulan fisik masuk ke dalam skala prioritas kementerian.
Pihaknya mengakui keterbatasan anggaran publik memicu adanya jeda waktu pengerjaan proyek di daerah. Banyaknya fasilitas belajar yang aus membuat antrean realisasi bantuan di pusat berjalan cukup panjang.
”Tahun 2025 kita sudah berhasil membangun 16.167 satuan pendidikan secara nasional,” katanya.
Pemerintah pusat menetapkan target pembenahan awal untuk 11.744 sekolah pada kalender anggaran periode tahun berjalan ini. Angka tersebut dipastikan melonjak tajam setelah penambahan pagu fiskal disetujui.
Manajemen kementerian tengah memproses pengajuan dana belanja tambahan ke pihak Kementerian Keuangan. Langkah berani ini menargetkan perluasan cakupan intervensi fisik hingga menyasar puluhan ribu lokasi baru.
”Kami mengajukan anggaran biaya tambahan sesuai arahan Presiden untuk 60.000 sekolah,” jelasnya.
Jika usulan modal tambahan tersebut disetujui, maka total target pembenahan bangunan sekolah akan menyentuh angka akumulatif 71.744 unit. Skema pengerjaan dipastikan tetap menggunakan jalur non-kontraktor.
Model swakelola dipilih karena anggaran negara dikirim langsung ke rekening pihak sekolah tanpa perantara. Kepala sekolah memegang kendali penuh sekaligus tanggung jawab mutlak atas mutu bangunan.
Sistem mandiri ini terbukti memotong rantai birokrasi sehingga durasi pengerjaan menjadi jauh lebih kilat. Kualitas hasil akhir konstruksi juga dinilai lebih kokoh dan sesuai ekspektasi pengajar.
Pendekatan ini juga sukses menghidupkan sektor ekonomi riil di sekitar lokasi proyek lewat penyerapan kuli bangunan lokal. Toko material bangunan dan pelaku UMKM makanan ikut ketiban untung secara instan.
Pusat saat ini memfokuskan alokasi dana darurat untuk memulihkan gedung sekolah yang hancur akibat terjangan bencana alam di Pulau Sumatra. Wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal juga masuk radar utama.
”Insyaallah di akhir tahun 2028 semua sekolah yang rusak selesai dibangun pemerintah,” pungkasnya.*


















