PorosLombok.com –
(Sabtu | 05 – November 2022 )
Berawal dari cerita salah satu teman ku warga desa kotaraja, tentang keindahan dusun penyonggok yang mempesona dan begitu indah dipandang mata. Apalagi disana juga terdapat Air terjun yang konon airnya bening dan menyegarkan.
Dusun Penyonggok sebuah dusun yang berada di desa tetebatu selatan, kecamatan Sikur, Lotim. Karena penasaran, aku pun mencoba untuk membuktikan hal tersebut.
di sepanjang jalan yang ku lalui pagi itu, Terlihat panorama sawah hijau yang membentang indah, ditambah kaki Rinjani tampak kokoh seolah menampakkan keperkasaannya.
Memasuki dusun penyonggok, membuat ku ingin untuk berlama-lama disana, bagaimana tidak, kesejukan udaranya yang asri, masyarakatnya yang ramah dan masih menjaga nilai-nilai budaya warisan para leluhur, terutama dalam ritual pernikahan.
di dusun tersebut juga terdapat pula sebuah air terjun, yang masyarakat setempat namakan “Pengkelep Jero Juangge”. Sebuah air terjun yang indah dengan kesejukan airnya yang membuat para pengunjung merasa segar saat mandi disana.
Bebatuan yang terjal dan cadas begitu indah menghimpit tumpahan air dari rinjani, semakin menambah khazanah keindahan air terjun tersebut. ikan-ikan kecil pun bermain riang gembira, berenang berkloni-kloni di sekitarnya. seakan menyambut pengunjung yang datang siang itu
Untuk sampai ke air terjun tersebut hanya perlu menempuh jarak kurang lebih 40 kilo meter dari simpang empat desa Kotaraja, jika dari Jalan arah paok motong belok kanan melalui jalan jurusan desa tetebatu.
Walaupun indah, namun wisata ini kurang perhatian pemerintah, terlihat belum ada tempat tiket, penataan jalan yang belum rapi, bahkan papan nama tempat wisata tersebut juga belum ada, menurut informasi dari kepala wilayah setempat bahwa hal ini, sudah sering kali disuarakan kepada Pemerintah. “Bahkan saat musrembangdes tetap saya suarakan,” ucap Lalu Arya salah satu kawil di dusun tersebut dengan sedikit kesal.
Sebelumnya, tempat ini ramai dikunjungi, namun sejak Pandemi Covid- 19, seolah mati suri seakan sunyi tak berpenghuni, selang beberapa menit aku pun memutar arah kembali karena cuaca yang mulai mendung, takut hujan sehingga harus segera sampai di rumah.
Sebenarnya aku ingin menggali sejarah air terjun ini namun sayang Lalu Arya belum banyak mengetahui tentang hal ini, mungkin lain kali saja aku coba mencari sumber yang lain.
(Arul/ PorosLombok)


















