Komunitas Belajar Sekolah Penggerak Gelar Workshop Penyusunan Modul Ajar dan Modul P5

Lotim, PorosLombok.com

Dalam rangka meningkatkan kemampuan guru untuk menyusun administrasi pembelajaran Kurikulum Merdeka bagi guru sekolah penggerak tingkat SD angkatan 2 di Lombok Timur, Komunitas Belajar Sekolah Penggerak mengadakan Workshop Penyusunan Modul Ajar dan Modul P5.

Worksop Pengembangan dan Modul Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) ini dilaksanakan dari tanggal 2 – 6 Maret 2023  bertempat di SDN 2 Nyiur Tebel, Kecamatan Sukamulia.

Worksop ini diikuti oleh 216 peserta dari 36 Sekolah Dasar berstatus sekolah penggerak, yang dibimbing oleh fasilitator yang berkompenten.

Ketua Komunitas Belajar Sekolah Penggerak angkatan ke dua Lotim, Sumiadis, S.Pd. menyampaikan kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan diri dan guru lain dengan refleksi, berbagi dan berkolaborasi secara mandiri.

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari kompetensi dalam merencanakan, menjalankan, merefleksikan dan mengevaluasi proses pembelajaran.

Selain itu, imbuhnya, melalui workshop ini dapat mengembangkan dan memimpin upaya mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan relevan dengan kebutuhan komunitas di sekitar sekolah.

“Seperti yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI), Nadiem Makarim. Dia mengatakan, bahwa guru penggerak adalah ujung tombak perubahan signifikan pendidikan Indonesia” tuturnya saat dikonfirmasi di lokasi acara pada Selasa Kemarin (07/03).

Guru penggerak, lanjutnya, merupakan pemimpin pembelajaran yang mampu menerapkan kemerdekaan dalam belajar. Mereka turut serta menggerakkan ekosistem dunia pendidikan guna mewujudkan pendidikan yang berpusat pada peserta didik.

“Hadirnya program guru penggerak ini, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru dan mewujudkan merdeka belajar,” tuturnya.

Peserta yang mengikuti workshop ini terdiri dari guru kelas 1 dan 4, guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, Pendidikan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan dan Bahasa Inggris.

“Masing – masing mata pelajaran satu fasilitator,” terang dia.

Melalui worksop ini, ia berharap guru dapat mengembangkan sendiri modul ajar dan P5 sesuai kebutuhan sekolah masing-masing.

“Kebutuhan sekolah kita kan berbeda-beda. Melalui kegiatan ini maka guru dapat membuat modul ajar dan P5 itu,” ujarnya.

( PL, Erwin )

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU