LOMBOK UTARA – PorosLombok.com | Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lombok Utara (KLU) Anding Duwi Cahyadi mengatensi abrasi yang terjadi di Gili Tramena (Trawangan, Meno, Air).
Menurut Sekda, hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut dengan membangun pemecah ombak, pengadaan talut, hingga dengan penanaman pohon.
Namun dalam pelaksanaannya, akan menjadi buah simalakama bagi Pemerintah Daerah (Pemda) KLU.
Karena potensi merusak keindahan yang selama ini menjadi identitas Gili Tramena bisa terusik, hingga potensi untuk ditinggalkan wisatawanpun besar terjadi.
“Begini dia, ini abrasi bisa kita tangani dengan membuat talut, pemecah ombak, hingga penanaman pohon,”
“Namun jika dilakukan bisa menjadi buah simalakama, kalau itu kita lakukan maka ditinggalkan lah gili ini, tidak menarik lagi. Sekarang caranya adalah menanam pohon,” ucap Sekda saat dikonfirmasi media ini, Rabu (8/3/2023).
Kendati demikian, kata Sekda, persoalan yang dihadapkan kemudian pohon yang ditanam tidak bisa serta-merta tumbuh.
Hingga memang kolaborasi semua pihak diperlukan dalam keseriusan menanggapi persoalan abrasi yang terjadi di Gili Tramena.
Pemda, pemerintah pusat, hingga masyarakat harus sadar akan kelestarian Gili Tramena.
“Pertanyaan yang muncul, akan kah semua punya komitmen?, jawabannya masing-masing nilai diri sendiri lah sekarang ini. ini sebuah problem yang butuh kajian mendalam,” katanya.
Hingga pada tahun 2022 kemarin Kementrian Bappenas hadir ke Trawangan, hal itu di lakukannya untuk melakukan survei, hingga nantinya akan ditindak lanjuti seperti apa Gili tersebut.
“Bappenas kemarin datang menggunakan helikopter dari Bali, melakukan kajian pengobatan tiga Gili ini, seperti apa sih idealnya, dengan tidak mengorbankan alam kemudian masalah bisa terselesaikan,” ungkapnya.
Karena jika dilakukannya pembangunan semisal pemecah ombak oleh Pemda maupun pemerintah pusat, hal itu malah akan membuat keindahan dari Gili Tramena menjadi hilang. Karena sejatinya Gili Tramena merupakan kawasan konservasi.
“Soal pembuatan talut akan mengakibatkan tidak menarik lagi Gili itu, apa kita mau menyelesaikan itu dengan meninggalkan pariwisata, menyelesaikan abrasi kemudian pariwisata ditinggalkan,” tuturnya.
Sejatinya, kata dia lebih lanjut, menyelesaikan persoalan ini adalah dengan cara alami, seperti penanaman pohon dan lain sebagainya.
(Yami Ulandari/PL)















