LOTIM – PorosLombok.com | Panen raya padi/gabah telah berlangsung secara serentak di seluruh pulau Lombok, tak terkecuali di Lombok Timur.
Berkaca dari panen raya pada tahun-tahun sebelumnya, ketika memasuki masa panen raya harga harga gabah cenderung turun, tetapi tahun ini justru sebaliknya.
Masuknya pengusaha asal Jawa dan Bali disinyalir menjadi pemicu naiknya harga gabah di tingkat petani. Pasalnya, mereka berani membeli dengan harga yang lebih tinggi dibanding pengusaha lokal.
Saat yang sama, pengusaha lokal yang kalah bersaing dengan pengusaha luar mengeluhkan mengeluhkan harga beli Bulog yang rendah.
Sepekan sebelum panen raya di mulai, harga Gabah sempat anjlok, namun pada saat panen raya dimulai harga gabah justru perlahan merangkak naik. Kenaikan harga gabah tersebut tentunya berdampak terhadap kenaikan harga beras.
Pengusaha dari Jawa dan Bali membeli gabah dengan harga Rp. 510.000 per kwintalnya. Sementara pengusaha lokal membeli dengan harga Rp 480.000 per kwintal.
“Sebelum panen raya harga sempat turun, kita beli dengan harga Rp 430.000 – 450.000. Tetapi sekarang harga gabah sudah naik lagi karena pengusaha Jawa dan Bali datang memborong,” ungkap pengusaha gabah Kusriadi Ali, Rabu (15/03).
Tingginya harga beli pengusaha Jawa Bali tersebut menyebabkan pengusaha Lokal kalah saing. Hal itu karena harga pembelian pengusaha Lokal berpatokan pada harga pembelian Bulog yang membeli beras dari pengusaha lokal yang menjadi mitra Bulog dengan harga Rp. 9000 per kilogram.
Harga tersebut tentunya sangat rendah jika dibandingkan dengan harga gabah ditingkat petani.
“Kita beli di petani harga gabah Rp. 510 ribu per kwintal, ditambah biaya transportasi, penjemuran dan penggilingan maka akan menjadi Rp. 530 ribu per kwintal. Dengan harga segitu harusnya beras kita jual di atas Rp. 10.500 ribu, baru kita dapet keuntungan” ungkap Kusriadi.
Lanjut Kusriadi, setelah adanya pengusaha Jawa dan Bali yang datang membeli, barulah Bulog menaikkan harga pembelian, itu pun masih di bawah Rp. 10.000 ribu yaitu diharga Rp. 9950 per kilogram. Tentu ia sangat menyesalkan lambatnya pihak Bulog Lotim menaikkan harga pembelian beras.
“Sekarang Bulog sudah menaikkan harga, tapi itu sudah telat, harusnya sejak awal itu langsung membeli dengan harga 10 ribu, kalo dengan harga gabah saat ini, itu masih rendah,” ujar Kusriadi.
Dengan naiknya harga beras tentu membuat petani diuntungkan. Sementara itu, naiknya harga Gabah ini menyebabkan harga beras di Lombok Timur juga mengalami kenaikan.
Sebelumnya, pada dua pekan lalu harga beras kelas Premium sempat turun ke harga terendah Rp. 9500 per kilogram, saat ini telah kembali naik ke harga Rp. 11.000 per kilogram.
Naiknya harga Gabah tersebut membuat petani diuntungkan, karena selama ini setiap panen raya harga gabah selalu anjlok ke harga terendah.
Kini petani bisa tersenyum bahagia, karena bisa mendapatkan keuntungan, karena pada tahun ini, biaya produksi meningkat, karena petani disusahkan dengan naiknya harga pupuk.
“Tumben panen raya tahun ini harga gabah bisa naik, kalo dulu pada tahun lalu harga gabah 350 per kwintal,” tutur petani asal keruak Saparwadi.
Editor: anas















