LOMBOK TENGAH – PorosLombok.com | Selama Ramadhan fenomena munculnya para pendakwah di masjid-masjid menjadi satu pemandangan yang kerap di jumpai di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Khususnya di Kecamatan Kopang, Lombok Tengah, para pendakwah yang biasanya datang berkelompok itu menginap di masjid masjid, dengan menggunakan metode dakwah door to door, alias khuruj.
Para pendakwah ini berkeliling dari masjid ke masjid dan itikaf di tiap masjid yang disinggahinya. Kemudian dari masjid yang disinggahi itu, para rombongan satu per satu berdakwah ke rumah-rumah warga.
Masjid yang mereka singgahi itu ibarat sebuah command center. Selain dakwah door to door,diadakan pula acara halaqah atau pengajian di dalam masjid yang jamaahnya adalah warga sekitar sendiri.
Muhammad Satriadi salah seorang Da’i khuruj yang sedang melakukan kegiatan dakwahnya di Masjid Al-ikhlas Ponggong menceritakan suka dan dukanya selama berdakwah.
“Kami seperti ini tidak ada niat lain kecuali ingin memakmurkan masjid,” ucapnya, menjawab media ini, Jumat (31/3/2023).
Dikatakannya, memang pada bulan Ramadhan menjadi momen yang istimewa bagi dirinya dan teman-temannya yang lain untuk memberikan pemahaman tentang agama.
Ustad Satriadi sapaan akrabnya, ia mengaku sudah menekuni kegiatan dakwah dengan metode khuruj ini sudah dari tahun 1996. Dalam perjalanan dakwahnya, suka duka telah ia lalui.
Ia yang sudah memiliki anak dan istri ini bahkan terkadang selama Ramadhan hanya bersama keluarga beberapa hari saja, selebihnya ia gunakan untuk berdakwah dari masjid ke masjid.
“Kalau selama Ramadhan itu kita targetkan harus berdakwah di 16 masjid, dan di masing-masing masjid itu minimal kita 3 hari disana,” terangnya.
Pengorbanan yang tak ada bayaran, ia rela meninggalkan anak dan istri untuk berdakwah di desa orang tentu bukan hal yang mudah dilakukan.
“Kalau di bilang ada manfaatnya untuk kita sih banyak, tapi bukan dalam bentuk materi namun lebih berharga dari itu, amal jariah,” tegasnya.
Memang, pendakwah ini tak dinaungi oleh lembaga apapun, pun begitu dengan biaya selama berdakwahnya semua di daperoleh dari sumbangan masing-masing anggota.
Hingga para Da’i ini juga kerap di sebut dengan sebutan “Da’i” kompor, dikarenakan dalam kegiatan dakwahnya yang iktikaf di masjid membawa perlengkapan kompor dan peralatan dapur lainnya.
Dalam satu kelompok, terkadang para Da’i khuruj ini berisikan 8 orang hingga dengan puluhan, tergantung dari banyaknya relawan yang mau bergabung.
Setelah selesai dari satu masjid, para kelompok ini nantinya akan berpindah ke masjid yang lain.
Kegiatan tersebut rutin dilakukan, bukan hanya selama Ramadhan namun juga setiap saat tergantung dari kesiapan para relawan yang tergabung dalam kelompoknya.
“Kalau kegiatan seperti ini bukan hanya di bulan Ramadhan saja, secara umum dalam satu bulan harus ada agenda kita ke masjid masjid,” tutupnya.
(Yami Ulandari/PL)















