Lagi Monyet Serang Warga di Montong Gading, Kabid Keswan Uraikan Musababnya

LOTIM – PorosLombok.com | Untuk kesekian kalinya kawanan monyet liar menyerang pengguna jalan yang melintas di perbatasan Desa Perian dan Desa Pesanggrahan, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur.

Kebanyakan korban mengalami luka karna gigitan dan cakaran, sebagian besar cakaran, dengan gerakan motor yang cepat membuat lukanya sangat dalam.

Terbaru, seorang ibu rumah tangga bernama Melinda Harisandi (25) warga Desa Pesanggrahan, ia diserang kawanan monyet liar saat melintas menggunakan sepeda motor borboncengan dengan anaknya.

Dikutip dari berbagai sumber, petugas berwenang telah memasang perangkap guna menangkap kawanan monyet liar tersebut. Namun hewan tersebut tetap lolos dan beraksi menyerang manusia.

Menurut keterangan Kepala Bidang Kesehatan Hewan pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Lombok Timur Drh. Hultatang, bahwa terdapat beberapa kesimpulan yang bisa ditarik dari kejadian tersebut.

“Berdasarkan keterangan PLT Kepala Desa Pesanggrahan, ada beberapa point kesimpulan yang bisa kita ambil,” kata Hultatang kepada poroslombok.com, Senin (3/4/23).

Yang pertama, berdasarkan penelusuran maupun keterangan yang dihimpun, kawanan monyet liar tersebut terdiri dari beberapa jenis. Ada jenis monyet biasa, ada juga monyet hitam jenis pitu yang jumlahnya berkisar 5-10 ekor.

Dari sekian gerombolan monyet tersebut, jenis monyet hitam cukup menyita perhatian karna salah satu diantaranya disinyalir menjadi pemimpin mereka dan diduga menjadi otak penyerangan warga.

Selain itu, keberadaan kawanan monyet liar tersebut selalu berpindah-pindah tempat, serta selalu muncul dan menggigit pada sore hari. Anehnya lagi, dari semua korban yang digigit seratus persen menggunakan sepeda motor.

“Ada kejadian orang memarkir sepeda motor, itu dirusak jok-nya. Ada juga orang jalan bawa sepeda motor ndak di apa-apain, tapi ada juga dibelakangnya bawa sepeda motor dengan mengeluarkan kata-kata yang kurang baik dia yang digigit,” tuturnya.

Berdasarkan itu, Tatang membuat kesimpulan sementara musabab monyet tersebut menyerang manusia adalah lantaran terprovokasi, merasa terganggu, dan bisa juga disebabkan adanya ketersinggungan dengan manusia yang membuat monyet merasa terancam, kemudian menyerang manusia.

Berdasarkan informasi, lanjut Tatang, kawanan monyet liar tersebut turun dari hutan kemudian tinggal/berada di dekat perkampungan sejak tiga tahun lalu. Diduga disebabkan hutan sudah ditanamin rumput, ada aktifitas warga, sehingga monyet merasa terganggu.

Korelasinya dengan itu, maka hutan tak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi satwa liar, selain juga makin berkurangnya ketersediaan makanan bagi monyet di dalam hutan yang pada akhirnya keluar dari hutan. Hal itu kemudian menjadi masalah baru bagi manusia.

Ketika memasuki daerah permukiman, maka akan terjadi interaksi antara monyet dengan manusia. Karakter manusia tentu berbeda-beda, ada yang wellcome, ada juga yang tidak bersahabat dengan kehadiran monyet.

Akibatnya, kawanan monyet tersebut merasa terancam bahkan traumatik terhadap manusia. Dugaan itulah yang kemudian menguat sebagai penyebab sang monyet menyerang manusia. Karna dilihat dari efek gigitan monyet, para korban tidak menunjukkan gejala terinfeksi rabies.

Jika demikian, menurut Tatang, tawaran solusinya adalah menangkap dengan segera monyet yang teridentifikasi sebagai kepala yang sekaligus menjadi dalang penyerangan terhadap manusia. Jika memungkinkan, bisa dibuatkan penangkaran.

“Kalo memang tidak bisa ditangkap pake perangkap, ya kalo saya sih langsung di tembak saja. Kan cuma satu yang menggigit itu, cuma ketuanya saja. Daripada terus menebar kekhawatiran masyarakat,” demikian Hultatang.

(PL- anas)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU