Dispertan Lotim Galakkan Pengembangan Budidaya Jambu Mete dan Vanili

LOTIM – PorosLombok.com | Dinas Pertanian (Dispertan) kabupaten Lombok Timur bidang perkebunan pada tahun 2023 terus menggalakkan pengembangan komoditas jambu mete dan vanili.

Berbicara komoditas jambu mete, Lombok Timur memiliki potensi dari sisi luas lahan. Namun begitu, belakangan sejumlah petani di kecamatan Pringgabaya mulai beralih ke komoditas lain.

Karenanya, Dinas Pertanian sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Pertanian Ir. Sahri kepada poroslombok.com, bahwa pada tahun ini pihaknya kembali menggalakkan pengembangan budidaya jambu mete.

“Jambu mete ini kita ada program peremajaan dari pusat. Peremajaan ini kita fokuskan di kecamatan Sambalia. Peremajaan ini adalah mengganti pohon-pohon yang sudah tidak produktif,” kata Sahri, Senin (15/5/23).

Difokuskannya kecamatan Sambalia lantaran wilayah lain seperti kecamatan Pringgabaya sudah beralih fungsi lahan yang dimana jumlah pohon jambu mete di wilayah itu kian berkurang.

Karena itu, pihaknya lebih memfokuskan di wilayah Sambalia yang masih banyak membudidayakan jambu mete, meski kondisi pohonnya sudah sangat tua sehingga perlu dilakukan peremajaan.

“Dan kebetulan ada program dari pusat, untuk lahan seluas 200 hektar,” ungkapnya.

Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh para petani, untuk nantinya diajukan ke pemerintah pusat. Yang pertama, petani pemohon lahannya harus sudah terpoligon (lahannya sudah punya koordinat masing-masing).

Yang kedua adalah, surat keterangan kepemilikan lahan secara perseorangan/bukan kelompok. Bagi yang belum memiliki sertifikat, diperbolehkan menggunakan surat keterangan kepemilikan dari desa.

“Bukti kepemilikan lahan berupa sertifikat ini kan sangat jarang, sehingga surat keterangan diperbolehkan. Nah itu sedang dalam proses, karna jumlah petani kita ratusan jumlahnya,” jelasnya.

Adapun jenis bantuan yang akan diberikan adalah berupa bibit dan saprodi (saprodi = pupuk dan pestisida) yang akan didrop setelah semua persyaratan dilengkapi.

Dijelaskan lebih lanjut, setelah semua persyaratan dilengkapi barulah dibuatkan SK oleh pusat, barulah kemudian dilakukan proses pengadaannya yang besar kemungkinan dilakukan pada awal musim penghujan.

“Awal musim hujan adalah waktu yang tepat untuk mulai menanam jambu mente. Karena kan dia butuh air saat menanam, sementara di sana lahan kering dan tidak ada irigasi,” jelasnya.

Keuntungan yang didapat petani budidaya jambu mente memang tak seberapa besar bila dibandingkan komoditas lain. Hal itulah, ungkap dia, yang menyebabkan beberapa petani beralih ke komoditas lain.

Meski demikian, petani di wilayah Sambalia masih cukup antusias untuk mengembangkan budidaya jambu mente, lantaran lahan di wilayah itu tergolong tidak produktif. Di sisi lain, petani Sambalia banyak yang menjadi peternak, sehingga buahnya bisa dijadikan pakan ternak.

Berbanding terbalik dengan dengan budidaya vanili, yang justru semakin digandrungi oleh para petani di Lombok Timur. Bahkan, di Desa Tetebatu saat ini sudah memiliki lahan sumber benih nasional.

“Sehingga para petani maupun pemerintah yang membutuhkan bibit vanili tidak kesulitan lagi, bisa beli di Tetebatu, tahun lalu sudah keluar SK-nya dari Kementerian,” katanya.

Disampaikan lebih lanjut, saat ini Dinas Pertanian Lombok Timur, juga mengembangkan intensifikasi komoditas vanili di wilayah Jurit Baru Kecamatan Pringgasela, pada lahan seluas 5 hektar. Saat ini sedang dilakukan CPCL.

“Dan pengembangan-pengembangan secara swadaya, itu sudah semakin marak. Di Sajang misalnya, sudah banyak sekali petani kita yang mengembangkan itu, karna mereka sudah tau vanili ini potensinya sangat luar bisasa,” sebutnya.

Terlebih, sambung dia lagi, kita sudah memiliki eksportir asal Lombok Timur yang khusus menerima hasil produksi vanili organik, untuk diekspor ke luar negeri.

Lombok Timur memiliki potensi untuk pengembangan budidaya vanili, hingga ratusan hektar. Akan tetapi saat ini yang bisa dikembangkan, baru 80 hektar saja.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Lombok Timur mampu menghasilkan produksi vanili kering sebanyak setengah ton per hektar. Soal harga, vanili termasuk komoditas yang tidak pernah anjlok.

“Kalo harga, kemarin saya tanya eksportirnya masih stabil. Ya dikisaran 120-130 ribu per kilo gram,” demikian Sahri.

(PL/anas)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU