Kadus Kedome Terindikasi Bawa Kabur Uang “Pisuke”, Calon Pengantin Hampir Gagal Nikah

LOTIM – PorosLombok.com | Masyarakat Dusun Kedome, Desa Ketapang Raya, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur merasa geram oleh perbuatan nakal Kepala Wilayah (Kadus) setempat.

Pasalnya, Kawil/Kadus yang seharusnya membantu menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi warganya, justru malah menimbulkan masalah bagi warganya.

Salah satu kasus yang membuat warga geram, kata Sulaiman, keluarga korban dugaan penipuan yang dilakukan sang Kadus adalah, membawa lari uang pisuke (uang jaminan) perkawinan warganya sendiri.

“Keluarga kami dibuat malu sama Kadus ini. Karna pernikahan keponakan saya (Feriadi) hampir saja gagal, karena uang jaminan dibawa kabur sama kadus ini,” ujar Sulaiman, Minggu (28/5).

Sebelumnya, kata dia, uang jaminan sebesar Rp 3 juta dari calon pengantin pria dititipkan melalui Kawil Kedome inisial ZI, untuk diberikan kepada keluarga calon pengantin perempuan (warga Dusun Selayar).

Namun, sambung dia, fakta uang jaminan belum diserahkan terungkap saat akad nikah hendak dilaksanakan, dimana orang tua calon pengantin perempuan tidak bersedia melaksanakan ijab kabul, jika uang jaminan belum dibayarkan.

Dalam suasana panik dan malu, keluarga calon pengantin pria berusaha menghubungi Kawil ZI melalui telepon. Akan tetapi ZI justru meminta agar ijab kabul dilaksanakan saja sembari menunggu dirinya yang sedang dalam perjalanan menuju tempat acara.

Namun, hingga waktu yang ditentukan tiba, yakni hari Kamis/malam Jum’at (25/5) pukul 10 malam, sang Kawil tak kunjung menunjukkan batang hidungnya, hingga saat ini.

“Akhirnya kami terpaksa menyerahkan sepeda motor sebagai jaminan, supaya pernikahan tetap bisa dilangsungkan. Daripada kami mendapat malu,” bebernya.

Kejadian serupa, kata salah seorang anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Ketapang Raya Zulkifli, pernah terjadi sebelumnya. Dimana sang Kawil juga membawa kabur uang jaminan warganya yang hendak menikah, beberapa bulan lalu.

“Sebelumnya Kawil ini juga pernah melakukan hal serupa, waktu pernikahan Firman. Tapi kalo itu sudah diganti uangnya. Tapi hampir tidak jadi nikah juga,” sebutnya.

Tak hanya itu saja, Kawil ZI juga diduga menjual meteran listrik (KwH) milik pekuburan umum setempat. Tak sampai disitu, sepeda motor dinas kawil juga diduga ikut digadaikan oleh Kawil bersangkutan.

“Saya pernah tanyakan sama pak kadus, dimana KwH itu?, dia bilang dia simpan di rumah. Tapi belakangan informasinya sudah dijual,” terang Zulkifli.

Kelakuan nakal Kawil itu pun, kata warga lainnya, Amin, kemudian dilaporkan kepada Pemerintah Desa setempat yang kemudian diatensi, bahkan kepala Desa sudah dua kali memberikan teguran keras kepada ZI, tapi tak digubris.

Salah satu sample perisi yang ditandatangani warga Dusun Kedome

Lantaran itu, tutur Amin yang merupakan ketua Kelompok LSM KRIS SASAK bersama Anggota BPD Zulkifli, mengaku bahwa pihak desa menyarankan kepada masyarakat untuk membuat petisi tentang pemberhentian Kawil Kedome yang ditandatangani oleh 50+1 atau minimal 301 orang dari 600 KK penduduk Dusun Kedome.

Saat ini, kata Amin, sebanyak 221 orang dari 2 gubuk yang sudah menandatangani petisi, yakni gubuk tengak/kebon dan gubuk bangket. Sisanya (gubuk timuk dan gubuk sepan) sedang dalam proses.

“Tinggal dua gubuk yang belum, tapi saat ini sedang dilakukan, bahkan warga dua gubuk yang belum ini sangat antusias untuk itu. Intinya sebagian besar warga Kedome menghendaki Kawil ini diganti,” tandasnya.

Tak hanya meminta pemberhentian, keluarga pengantin yang merasa ditipu oleh Kawil ZI meminta supaya uang yang dibawa kabur oleh Kawil untuk diganti. Jika tidak, keluarga mengancam akan membawa kasus ini ke ranah hukum.

“Kami minta uang itu diganti. Pengantin ini dari keluarga miskin, uang tiga juta itu dari hasil patungan keluarga. Kalo tidak dikembalikan, kami akan bawa ke ranah hukum,” ancam Sulaiman.

Terpisah, Kepala Desa Ketapang Raya Sayid Zulkifli yang dikonfirmasi media ini via telepon membantah jika pihaknya memberi saran agar membuat petisi sebagai dasar untuk memberhentikan Kawil Dusun Kedome.

“Bohong itu. Dia ngawur yang bilang begitu, saya tidak pernah menyarankan seperti itu,” bantah Kades S. Zulkifli, tetapi membenarkan tentang adanya aduan masyarakat terkait uang jaminan perkawinan, juga mengakui sudah menegur sang Kawil dua kali.

Dirinya yang saat ini sedang berada di Sumbawa berjanji, sepulangnya nanti akan memanggil Kawil ZI untuk dimintai keterangan terkait aduan warga.

“Nanti kita panggil untuk klarifikasi, barangkali ada suatu yang sangat mendesak. Tidak bisa juga kita ujuk-ujuk melakujan itu (pemberhentian-red), Tapi nanti kita lihat, jika memang benar seperti itu ya kita pertimbangkan,” pungkasnya.

Sementara itu Kawil Kedome ZI yang dikonfirmasi via telepon menjelaskan kronologi uang jaminan yang menurut dia hanya sebatas kesalahpahaman semata.

Kata dia, dirinya pernah menyampaikan kepada keluarga pengantin pria jika ia tidak berani memegang uang sehingga berjanji akan menitipkan uang tersebut kepada saudaranya yang berdomisili di Tanjung Luar, yang kemudian disetujui oleh keluarga pengantin.

Namun, kata dia, pada hari H pelaksanaan akad nikah keluarga sang Kadus yang dititipi uang itu sedang pergi ke Mataram dan pulang sekitar jam 1.00 dini hari, sementara akad nikah harus dilaksanakan sesuai jadwal.

Saat ditanya, kenapa besok paginya uang tersebut tidak langsung diantar? ZI berkilah bahwa uang tersebut sudah dipakai oleh keluarganya itu dan tersisa tinggal Rp.1.900.000. Hal itu diakuinya sebagai kesalahan dan kekeliruannya.

“Nah itu tempat tiang (saya) salah. Ternyata uang yang saya titip tiga juta itu tinggal sejuta sembilan ratus, dia sudah pakai katanya. Ini masih ada sembilan ratus,” katanya dengan keterangan yang berubah-ubah.

Terkait penjualan KwH kuburan, dirinya mengakui telah menjual barang tersebut setelah sebelumnya berkoordinasi dengan tokoh setempat, yang kemudian disetujui hasil penjualan KwH itu untuk tambahan biaya pembangunan masjid.

“Niat saya baik, karna KwH ini ada dua buah dan yang satu juga biayanya mahal, terus pegawai PLN juga bilang, jual aja satu daripada tidak dipakai. Kan kalo dua siapa juga yang belikan pulsa, makanya saya jual seharga Rp 250 ribu,” katanya.

Adapun soal dugaan motor dinas kawil yang digadai, ZI secara tegas mengatakan bahwa hal itu tidak benar. Dirinya bahkan meyakinkan bahwa motor dinas dimaksud masih ada di rumahnya.

(PL/anas)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU