Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan Bersama Sukisman di Ponpes Buak Ate Kembang Mate

LOTIM – PorosLombok.com | Rasa nasionalisme dan semangat kebangsaan harus terus dipupuk dan ditumbuh kembangkan oleh seluruh elemen bangsa, sesuai dengan semangat proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945.

Hal itu disampaikan anggota komite II DPD RI Dapil NTB Ir.H. Achmad Sukisman Azmy, M.Hum saat menjadi narasumber pada acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama tokoh masyarakat dan pengurus pondok pesantren Buak Ate Kembang Mate Desa Rumbuk Timur, Kecamatan Sakra, Lombok Timur.

“Empat Pilar Kebangsaan ini begitu penting sebagai pedoman hidup kita dalam berbangsa dan bernegara. Maka kita semua bertanggungjawab untuk menjaga, merawat, sekaligus mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” papar Sukisman, Selasa (18/7/2023).

Empat Pilar Kebangsaan itu yakni, Pancasila sebagai dasar atau ideologi negara, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Selain itu, kata dia, tujuan dilaksanakannya sosialisasi empat pilar ini adalah untuk menggali dan menumbuhkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Kita tau di era sekarang ini nilai-nilai luhur budaya bangsa kita ini sudah mulai luntur,” kata pria yang memiliki akronim ASA itu.

Karena itu, mantan ketua PWI NTB itu berharap melalui sosialisasi secara terus-menerus masyarakat dapat memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila maupun UUD 1945 secara utuh, menyeluruh dan berkelanjutan.

Ia menilai, Sosialisasi Empat Pilar ini menjadi penting karena MPR menilai masih banyak kelompok masyarakat yang belum memahami dan mengerti tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Tanpa gerakan nasional pemasyarakatan dan pembudayaan, sambung dia, Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, esksistensi dan peranannya dari waktu ke waktu akan memudar.

“Jika ini tidak kita galakkan, maka pada gilirannya akan memengaruhi penyelenggaraan negara,” tegas dia.

Diuraikan Sukisman, salah satu karakteristik Indonesia sebagai negara-bangsa adalah kebesaran, keluasan wilayah dan kemajemukan masyarakatnya.

Negara kita, lanjutnya, terdiri dari 1.128 suku bangsa, bahasa, ragam agama dan budaya yang tersebar di sekitar kurang lebih 16.056 pulau. Sudah barang tentu sangat rentan untuk dipecah-belah.

Untuk itu perlu konsepsi, kemauan dan kemampuan yang kuat dan memadai untuk menopang kebesaran, keluasan dan kemajemukan keIndonesiaan.

“Konsepsi tersebut disebut sebagai Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, atau Empat Pilar Kebangsaan,”jelasnya.

Diulas lebih lanjut, Empat pilar kebangsaan adalah tiang penyangga yang kokoh agar rakyat Indonesia merasa nyaman, aman, tenteram dan sejahtera serta terhindar dari berbagai macam gangguan dan bencana.

“Maka tiang penyangga suatu bangunan harus kuat, agar bisa berdiri secara kokoh. Bila tiang rapuh maka bangunan akan mudah roboh,” ulasnya.

Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, sambung dia lagi, adalah kumpulan nilai-nilai luhur yang harus dipahami seluruh masyarakat, dan menjadi panduan dalam kehidupan ketatanegaraan untuk mewujudkan bangsa dan negara yang adil, makmur, sejahtera dan bermartabat.

Pada kesempatan itu, kepada para santri Sukisman berpesan, agar para santri membaca dan mempelajari buku yang berisikan materi empat pilar kepada para santri, serta memahami dan mengamalkannya.

Ia menekankan, agar anak-anak generasi bangsa harus tumbuhkan kembali wawasan kebangsaannya serta cinta tanah air, agar menjadi generasi yang lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, kelak jika menjadi pemimpin bangsa ini.

Sukisman juga mengingatkan, pada era digitalisasi atau yang juga disebut Era 4.0 ini, arus informasi begitu deras, sehingga generasi muda saat ini lebih mudah mengakses segala informasi hanya melalui telepon genggam.

Karnanya ia mengingatkan agar para santri senantiasa dapat memfilter atau memilah dan memilih mana yang positif dan mana yang negatif. Terlebih pada tahun-tahun politik dimana sering terjadi black campaign.

“Saya ingatkan kepada para santri agar selalu menyaring berbagai informasi, terutama di sosial media, agar tidak mudah terjerumus kedalam hal-hal yang dapat merusak tatanan dan nilai moral kita dalam berbangsa,” demikian Sukisman.

(PL-anas)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU