(Lombok Timur, PorosLombok.com) – Kecamatan Sikur di Kabupaten Lombok Timur tahun ini menghadapi fenomena unik. Angka pernikahan yang biasanya meningkat saat Maulid Nabi Muhammad SAW, justru menurun drastis. Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sikur, Mujiburrahman, S.Ag, mengungkapkan bahwa kesibukan warga mengurus tembakau menjadi salah satu faktor utama penyebabnya.
Biasanya, tradisi Maulid menjadi momentum bagi banyak pasangan untuk meresmikan hubungan. Namun, data KUA menunjukkan bahwa tahun 2024 ini berbeda. “Faktor ekonomi dan fokus pada peningkatan hasil tembakau membuat masyarakat menunda pernikahan,” ujar Mujiburrahman saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (17/09).
Pada tahun 2023, KUA Sikur mencatat rata-rata 50 hingga 60 pernikahan setiap bulan. Angka ini bisa melonjak saat Maulid tiba. Namun, tahun ini, jumlah tersebut berkurang drastis, hanya sekitar 30 pernikahan per bulan. “Bahkan, bulan Februari dan Muharram kemarin tidak mencapai 20,” tambah Mujiburrahman.
Mujiburrahman menjelaskan bahwa tembakau menjadi fokus utama masyarakat saat ini. Musim panen yang bertepatan dengan waktu pernikahan membuat warga lebih memilih mengutamakan ekonomi. “Tembakau adalah komoditas penting, dan perhatian masyarakat teralihkan ke sana,” katanya.
Selain itu, fenomena pernikahan anak di bawah umur yang kerap tidak terlapor juga menjadi perhatian. Masyarakat cenderung tidak melaporkan pernikahan dini ini ke pihak berwenang, sehingga angka resmi pernikahan yang tercatat tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
KUA Sikur belum dapat memastikan penyebab utama penurunan angka pernikahan. Namun, Mujiburrahman mengindikasikan bahwa kombinasi faktor ekonomi dan tradisi menjadi alasan yang mungkin. “Ini baru simpulan sementara kami,” ujarnya.
Di tengah situasi ini, KUA Sikur mengimbau masyarakat agar tetap melaporkan pernikahan secara resmi untuk kepentingan administrasi dan legalitas. Hal ini penting untuk menjaga hak-hak hukum pasangan dan anak di masa depan.
Dengan dinamika ini, Kecamatan Sikur menghadapi tantangan unik. Bagaimana menjaga keseimbangan antara tradisi, ekonomi, dan kepentingan keluarga menjadi tugas bersama semua pihak di tengah masyarakat yang semakin dinamis.
(Arul/PorosLombok)














