Nasional, PorosLombok.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan masyarakat soal potensi gempa besar di zona seismic gap Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa pembahasan mengenai gempa Megathrust bukan berarti gempa besar akan segera terjadi, melainkan untuk meningkatkan kesadaran terhadap ancaman tersebut.
“Peristiwa semacam ini merupakan momen yang tepat untuk mengingatkan kita di Indonesia akan potensi gempa di zona seismic gap Selat Sunda dan Mentawai-Siberut,” ujar Daryono, dikutip CNBC.com, Senin (16/12).
Sebagai catatan, zona Selat Sunda terakhir kali diguncang gempa besar pada 1957, dengan usia seismic gap mencapai 267 tahun. Sementara itu, di zona Mentawai-Siberut, gempa besar terakhir terjadi pada 1797, dengan seismic gap selama 227 tahun.
Situasi ini berbeda dengan Tunjaman Nankai di Jepang yang mengalami gempa besar pada 8 Agustus 2024, setelah sebelumnya gempa serupa terjadi pada 1946 dengan usia seismic gap hanya 78 tahun. Menurut Daryono, periodisitas yang jauh lebih panjang di Indonesia menjadi alasan penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk memprioritaskan mitigasi bencana.
“Hal ini dikarenakan kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar, tetapi bukan berarti segera akan terjadi gempa dalam waktu dekat,” jelas Daryono.
Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan isu Megathrust bukanlah hal baru.
“Sebetulnya isu Megathrust itu bukan isu yang baru. Itu isu yang sudah sangat lama. Tapi kenapa BMKG dan beberapa pakar mengingatkan? Tujuannya adalah untuk, ‘ayo, tidak hanya ngomong saja, segera mitigasi,’” kata Dwikorita, dikutip dari CNN Indonesia.
BMKG sendiri telah melakukan berbagai langkah mitigasi, mulai dari pemasangan sensor sistem peringatan dini tsunami InaTEWS yang menghadap langsung zona Megathrust, hingga pendampingan pemerintah daerah dalam menyiapkan jalur evakuasi, sistem peringatan dini, dan shelter tsunami.
BMKG juga bergabung dengan Indian Ocean Tsunami Information Center untuk mengedukasi 25 negara di Samudera Hindia dalam menghadapi ancaman gempa dan tsunami.
Selain itu, BMKG secara rutin melakukan pengecekan sistem peringatan dini yang dihibahkan kepada pemerintah daerah. Dengan dukungan Kementerian Kominfo, BMKG memastikan informasi peringatan dini bencana dapat segera diterima masyarakat.
Ancaman gempa besar di zona Megathrust memang nyata. Dengan usia seismic gap yang sudah mencapai ratusan tahun, Indonesia harus semakin serius dalam mempersiapkan diri menghadapi risiko bencana ini.(*)














