Oleh: Eko Rohadi, SH
Ketua Forum Rakyat Bersatu
__________________________________
Lombok Timur,PorosLombok.com – Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lombok Timur tahun 2024 mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 80,47%, jauh di atas capaian 2023 yang hanya 58,94%. Dengan total pendapatan Rp487,740 miliar, peningkatan ini menjadi pencapaian besar yang patut diapresiasi. Namun, keberhasilan ini juga menyisakan pekerjaan rumah berat, terutama bagi Bupati baru yang akan segera dilantik menggantikan Pj. Bupati H. Muhammad Juaini Taofik.
Sebagai Ketua Forum Rakyat Bersatu, saya melihat bahwa capaian ini adalah tonggak penting dalam sejarah pembangunan Lombok Timur. Namun, pertanyaan yang muncul adalah, apakah Bupati baru mampu mempertahankan atau bahkan melampaui capaian ini? Atau justru keberhasilan ini akan tergerus akibat kurangnya strategi dan komitmen yang tepat?
Peningkatan PAD ini bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari kebijakan strategis seperti evaluasi rutin, optimalisasi sumber daya manusia, dan digitalisasi transaksi pajak. Hingga akhir 2024, 74,18% transaksi pajak dilakukan melalui kanal digital, sementara 19,46% dilakukan semi-digital, dan hanya 6,36% secara tunai. Transformasi ini membawa efisiensi dan transparansi yang nyata, namun tetap memiliki potensi tantangan di masa depan.
Digitalisasi yang telah dimulai, seperti peluncuran Sistem Informasi Perpajakan Daerah (SIPDAH), harus dikelola dengan konsisten. SIPDAH menjadi alat penting untuk mempermudah masyarakat dalam memenuhi kewajiban pajak daerah. Namun, tanpa pengawasan dan pengembangan yang tepat, aplikasi ini berisiko kehilangan kepercayaan publik.
Selain itu, pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) menjadi tantangan yang tidak kalah penting. PT. Energi Selaparang, salah satu BUMD di Lombok Timur, masih menghadapi masalah utang piutang macet dan kurangnya produktivitas usaha. Evaluasi menyeluruh dan strategi inovatif mutlak diperlukan agar BUMD ini menjadi aset produktif bagi daerah.
Bupati baru juga dihadapkan pada tantangan menjaga momentum pembangunan di sektor lain. PAD yang meningkat seharusnya diarahkan untuk memperkuat pelayanan publik, infrastruktur, dan program sosial. Harapan besar masyarakat terletak pada bagaimana lonjakan PAD ini diterjemahkan menjadi perbaikan nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Pj. Bupati H. Muhammad Juaini Taofik dengan tegas menyatakan bahwa capaian ini adalah hasil kerja kolektif. “Keberhasilan ini adalah buah dari sinergi dan kolaborasi. Tugas pemimpin baru adalah menjaga ritme ini dan memastikan Lombok Timur terus bergerak maju,” ujarnya dalam laporan akhir masa jabatan di Kemendagri.
Namun, mempertahankan ritme ini bukan hal yang mudah. Setiap pergantian kepemimpinan sering kali disertai perubahan kebijakan yang dapat mengganggu stabilitas program yang sudah berjalan. Komitmen Bupati baru untuk melanjutkan program yang terbukti efektif menjadi kunci dalam memastikan keberhasilan berkelanjutan.
Sebagai Ketua Forum Rakyat Bersatu, saya melihat bahwa salah satu kunci utama keberhasilan adalah keterlibatan masyarakat. Digitalisasi pajak, misalnya, hanya akan berhasil jika ada sosialisasi yang masif, proses yang sederhana, dan sistem yang aman. Masyarakat harus diajak untuk menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar objek kebijakan.
Tantangan terbesar bagi Bupati baru adalah bagaimana menjaga ekspektasi masyarakat. Capaian PAD sebesar 80,47% telah menciptakan standar yang tinggi. Jika Bupati baru gagal mempertahankan atau bahkan meningkatkan capaian ini, dampaknya tidak hanya pada penurunan pendapatan tetapi juga pada kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.
Transisi kepemimpinan ini menjadi momen penting yang menentukan arah masa depan Lombok Timur. Apakah Bupati baru mampu melanjutkan prestasi yang ada, atau justru membiarkan capaian ini terhenti, akan menjadi sorotan publik dalam beberapa tahun mendatang.
Sebagai pemimpin baru, mereka harus memiliki keberanian mengambil langkah inovatif, terutama dalam pengelolaan PAD dan penguatan BUMD. Pemerintah daerah harus memperkuat integrasi dengan pelaku usaha dan masyarakat untuk menciptakan solusi bersama dalam menghadapi tantangan yang ada.
Bagi saya, keberhasilan PAD ini adalah modal besar yang harus dimanfaatkan untuk pembangunan yang inklusif. Dengan potensi yang dimiliki, Lombok Timur bisa menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola sumber daya secara efektif.
Namun, potensi besar ini hanya bisa terwujud jika pemimpin baru memiliki visi yang kuat dan berkomitmen untuk melanjutkan program-program yang terbukti berhasil. Tanpa kepemimpinan yang solid, capaian ini hanya akan menjadi catatan sejarah yang sulit diulang.
Kini, harapan masyarakat Lombok Timur berada di pundak pemimpin baru. Tugas mereka bukan hanya mempertahankan capaian PAD tetapi juga membuktikan bahwa Lombok Timur mampu bergerak ke arah yang lebih maju dan berdaya saing tinggi.
Jika tantangan ini berhasil dijawab, Lombok Timur akan menjadi daerah yang tidak hanya dikenal karena lonjakan PAD-nya tetapi juga karena keberhasilannya dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebaliknya, jika gagal, sejarah akan mencatat transisi ini sebagai awal dari kemunduran.
Redaksi | PorosLombok















