Lombok Timur, PorosLombok.com – Pelayanan pendampingan bagi jamaah haji asal Lombok Timur menuai sorotan. Kementerian Agama (Kemenag) Lombok Timur mengakui jumlah petugas pendamping sangat terbatas.
“Kami hanya dapat lima orang pendamping tiap tahun,” kata Pelaksana Harian (PLH) Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Lombok Timur, Miftahussurur, saat ditemui di Selong, Senin (26/05).
Miftah menjelaskan, dari lima orang itu, sebagian dibiayai Kemenag dan sisanya dari anggaran Pemda. Menurutnya, angka itu jauh dari cukup, mengingat banyaknya jamaah yang harus didampingi, termasuk lansia dan jamaah dengan kebutuhan khusus.
“Padahal kami sudah beberapa kali ajukan penambahan. Tapi kuotanya tetap,” ujarnya.
Untuk menutupi kekurangan, sebagian jamaah membawa pendamping mandiri yang membiayai keberangkatan sendiri. Pendamping ini biasanya bisa berangkat lebih cepat karena tak perlu antre lama.
Namun, Miftah mengingatkan, semua pendamping – baik resmi maupun mandiri – wajib menjalankan tugasnya dengan serius.
“Kalau ada yang lalai, bisa kami tarik pulang,” tegasnya.
Keluhan dari jamaah sempat mencuat. Seorang jamaah dari Kloter 7 menilai pendamping tak maksimal dalam menjalankan tugasnya.
“Petugas haji lebih mementingkan diri sendiri. Lansia dibiarkan kebingungan,” kata jamaah yang enggan disebut namanya, Jumat (16/5).
Dia juga menyebut ketua kloter dan pengurus lainnya jarang terlihat mendampingi jamaah saat di Tanah Suci.
“Ketua kloter malah menghilang. Nggak kelihatan bantu jamaah,” sambungnya.
Miftah berharap pemerintah pusat dan daerah bisa menambah kuota pendamping untuk musim haji berikutnya. Ia menilai pendamping sangat penting, terutama bagi jamaah lanjut usia.
“Kami ingin pelayanan lebih baik tahun depan, apalagi untuk kelompok rentan,” pungkasnya.
(arul/PorosLombok)















